Selasa, 16 Oktober 2012

Berawal dari Facebook

Bekasi.... 
Sebuah kota yang bukan menjadi salah satu pilihan untuk ditinggali. Sambil menikmati panasnya terik matahari aku tetap menjalankan vespa antikku, menatap ke depan tanpa pernah mengeluh sudah berapa tetes keringat yang meleleh didahiku hanya untuk menuju ke sebuah warnet yang tidak begitu jauh dari rumah. Sambil beberapa kali kulihat wajahku yang lusuh dengan kepala masih mengenakan helm dari spion vespa.

Muncul banyak pertanyaan didalam kepalaku : Apakah ia akan benar - benar datang kesini? Seperti apa ia sesungguhnya? Bagaimana pendapatnya setelah melihatku? Aku pun masuk kedalam warnet tanpa membuka helm. Duduk diantara salah satu kursi dan mematung didepan monitor. Kubuka akun Facebookku sambil sesekali menatap layar ponsel.

Lalu pintu warnet terbuka, 4 orang gadis muncul dengan seragam sekolahnya yang terlihat aneh. Tatapan mataku terpaku pada salah satu wajah yang kukenal. Pandangan kami menyatu disana. Waktu seperti berhenti sejenak membiarkan dua anak manusia bertukar pandang dan saling menilai satu sama lain.

Tak lama kemudian ponselku bergetar. Satu pesan yang berasal dari salah satu gadis yang baru masuk ke warnet tadi. 

"Bima, kamu yang mana? yang pake helm didalem warnet?" tanyanya. Segera kujawab.

"Iya, kamu yang mana?" Seorang gadis berdiri sambil menolehkan wajahnya kearahku dan tersenyum. Senyum yang manis, batinku. Ia kemudian duduk dan kulihat di layar monitorku ada chat muncul. Segera kubuka dan ternyata dia, Dewi, teman Facebookku yang baru saja melempar senyum kearahku, teman Facebookku yang baru saja bertatap muka denganku, teman Facebookku yang saat ini berada dalam satu warnet denganku.

"Ngapain kamu didalem warnet pake helm? hahaha" tanyanya diakhiri tawa.

"Biar kamu ngenalin. Toh helm-ku juga enak dipakenya." jawab ku sekenanya.

"Kamu tinggi banget Bimaa. Gak nyangka bisa ketemu kamu disini."

"Kamu kebalikannya, kecil kayak tuyul. Mulai sekarang aku manggil kamu tuyul ah"

"Kok gitu? :(" kulirik sedikit ke tempat ia duduk, terlihat wajahnya memelas. Dan tanpa sadar aku mulai tertawa sendiri.

"Ya iya. cocok kok sama badanmu. Dasar Tuyul!" Aku semakin senang membuatnya jengkel.

"Terserah deh. Eh aku nggak bisa lama-lama, langsung cabut ya. dah Bimaaaa"

"Okeee, ati-ati tuyul." Jawabku sambil menghela nafas. Sebentar sekali, batinku. Tak lama kemudian chatnya offline dan ia segera beranjak dari tempat duduknya menuju server warnet. Sempat kudengar ia bertanya ke server "Berapa mas?". Suara yang terdengar selalu riang dengan senyum khas yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ia mengeluarkan selembar uang dan setelah menerima beberapa lembar kembalian ia menoleh ke arahku. Sebuah anggukan ramah yang menandakan ia pamit, kubalas dengan cengiran yang entah cengiran itu terllihat aneh atau menyeramkan. Pintu warnet terbuka, dan ia keluar. Aku hanya bisa menatap punggungnya dari dalam kaca warnet. Sampai jumpa lagi Dewi, bisikku dalam hati.

Aku masih terpaku didalam warnet. Pikiranku kembali pada awal kami berkenalan. Ia meminta pertemanan di akun Facebookku, dan aku menerimanya dengan biasa saja. Pada awalnya kami hanya bercerita tentang sekolah, musik dan hal-hal kecil lainnya. Sampai akhirnya aku tau bahwa ia dulu tetanggaku. Tetangga yang hanya beda dua blok. Tapi mengapa aku tak pernah melihatnya? Mengapa setelah aku pindah justru aku baru mengenalnya? Lewat Facebook pula.

Saat ini aku sedang duduk di bangku kelas 2 SMA di sebuah sekolah daerah Sukabumi, kota dengan suhu yang jauh lebih baik daripada Bekasi dimana tempat kedua orangtuaku tinggal. Keberadaanku di Bekasi hanya mengisi waktu liburan, sementara sekolah Dewi yang berada didepan warnet dekat rumahku itu jarang sekali libur. Sebenarnya pertemuan barusan adalah keisenganku saja, ingin tau seperti apa Dewi sebenarnya. Dan ternyata ia tidak jauh berbeda dengan apa yang ku lihat di Facebook. Kebiasaannya, gaya bahasanya, foto-fotonya, tak ada yang menipu. Semua hampir sama. Maka tidak sulit menebak yang mana Dewi diantara empat gadis berseragam aneh tadi.

Gadis yang lucu, batinku sambil senyam-senyum menatap akun facebooknya. Lamunanku buyar ketika ponselku bergetar, satu pesan masuk dari Dewi. 

"Bima aku udah sampe rumah ni. Kamu masih di Intama?" tanyanya sambil menyebutkan nama warnet yang terletak didepan sekolahnya itu. 

"Iya masih yul." jawabku ngasal. Selang beberapa detik ponselku bergetar lagi.

"Betah amat disitu. ckck" balasnya. Tak kujawab. Aku bahkan bingung harus membalas apa. Andai saja ia tau apa yang kulakukan di warnet selama berjam-jam, andai saja ia tau bahwa yang kulakukan dari awal aku masuk kedalam warnet sampai saat ini hanya terdiam menatap akun facebooknya, andai saja ia tau bahwa aku mengaguminya diam-diam.

Mengagumi? Entahlah. Sebenarnya aku merasa nyaman tiap kali berkomunikasi dengannya. Bahkan ia satu-satunya teman facebook yang bertukar nomor handphone denganku. Sudah cukup lama kami kenal dari facebook, tapi yang kuheran adalah aku tak pernah melihatnya ketika aku kecil. Dia mengaji di Masjid dekat rumahku, dia juga sering bersepeda setiap sore dan itupun melewati rumahku. Bahkan aku dan dia sering jajan di Indomaret yang sama. Tapi mengapa baru dipertemukan disini? Dan yang kuheran, mengapa kami baru dipertemukan dalam keadaan yang tidak tepat? Disaat ia baru saja melepas titel jomblonya dengan pria lain yang tempo hari ia ceritakan lewat sms. Kemarin-kemarin aku hanya risih mendengar ceritanya dengan pacar barunya, tapi sekarang rasanya lain. Sepertinya aku bukan hanya mengaguminya. Aku jatuh cinta diam-diam padanya. Ponselku bergetar lagi.

"Bim, kamu pingsan diwarnet?"

(bersambung ke Part 2 bisa klik disini)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar