Tampilkan postingan dengan label #31HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #31HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2013

Surat Terakhir; Ucapan Terimakasih

Selasa, 31 Desember 2013


Selamat Pagi, Siang, Sore, Malam...

Mungkin selama ini kamu menunggu-nunggu surat ke-21 hingga 30. Aku sengaja tak membuatnya. Karena sepuluh hari terakhir akan tertuang semuanya disini, dalam sebuah ucapan terimakasih.

-

Terimakasih yang pertama akan ku haturkan untukmu, Ibu...
Atas luapan cintamu yang tiada batas. Yang tak pernah mengeluh ketika anakmu seringkali ceroboh. Yang tak pernah melarang anakmu bepergian seorang diri. Dan terimakasih, atas tak menunjukkan kekecewaanmu ketika lagi-lagi anakmu gagal dalam membangun sebuah hubungan.

Percayakan padaku bila jodoh itu akan datang tepat pada waktunya, Ibu. 

Terimakasih atas restu dan doa yang selalu mengiringi setiap langkahku. Cita sayang Ibu...

-

Kepada Ayah, sang pejuang nafkah yang tak pernah kenal lelah.
Dalam rambut yang semakin putih dan kulitmu yang tampak keriput. Yang selalu pulang malam dalam pakaian lusuh dan mata berkantung. Yang mencukupi kebutuhan anak-anaknya tanpa mengomel. Terimakasih telah menjadi panutan. Terimakasih telah memberi contoh mana yang benar dan salah. Terimakasih telah memberi kebebasan kepada kami untuk jadi apa kami nanti. Terimakasih atas dukungan yang tak pernah surut. I'M PROUD TO BE YOUR DAUGHTER!

-

Untuk kakak dan adik-adikku.
Tak pernah ada alasan mengapa aku selalu berada diantara kalian. Menjadi penengah disaat yang lainnya jengah. Terimakasih telah memberiku kesempatan menjadi adik sekaligus kakak yang baik.

-

Untuk tempat-tempat yang telah ku kunjungi selama 2013...
Bermula dari Semeru (Januari), Cidahu - Salak (Februari), Solo - Wonogiri (Maret), Papandayan (April), Pangrango (Mei), Tanjung Enim - Palembang (Juni), Bali - Lombok - Rinjani - Banyuwangi - Surabaya - Kediri - Semarang (Agustus), Gunung Gede (September), Jogja - Merbabu - Wonogiri (Oktober), Papandayan (November)

Terimakasih telah memberi pelajaran hidup yang tak bisa ku dapat dari pelajaran di sekolah manapun.

-

Untuk teman-teman seperjalanan.
Untuk supir angkot dan kondektur.
Untuk tukang gorengan dan minuman dingin.
Untuk penjual nasi.
Untuk tukang ngamen.
Untuk jalan raya dan trotoar, juga jembatan penyeberangan.
Untuk stasiun dan bandara.
Untuk terminal dan pasar.
Untuk pelabuhan dan calo' tiket.
Untuk pasien-pasien di klinik.
Untuk murid-murid di tempat les.
Untuk mahasiswa kelas malam.
Untuk hujan di bulan Desember.
Untuk masyarakat Indonesia, yang sangat ramah.
Dan untuk pejabat-pejabat tinggi negara yang super sibuk.

Terimakasih telah mewarnai hidupku.

-

Untuk pembaca blog ini dan blog sebelah, terimakasih atas kesetiaannya menunggu postingan terbaru. Terimakasih atas kritik dan komentarnya yang bersifat membangun. Karena kalian, saya berkarya.

Untuk follower twitter @agitavio dan facebook Ageta Violy Oetomo, terimakasih tak pernah ngamuk ketika linimasa dan berandanya dipenuhi sampah saya.

-

Untuk raga yang tak pernah lelah.
Yang sering terserang flu dan diare tiap kali masuk musim dingin. Raga yang jarang berolahraga. Raga yang selalu dijejalkan makanan pinggir jalan. Raga yang bekerja hampir delapan belas jam setiap harinya. 

Untuk mata, tangan, hidung, mulut dan telinga yang tak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Yang masih sering bergunjing dan tak luput dari fitnah duniawi. Yang masih sering membuang-buang waktu dengan dunia maya. Semoga kelak kita bersama-sama menjadi lebih berguna. Karena waktu tak akan pernah terlambat.

Untuk hati,
Bersabarlah.
Jangan tergesa-gesa.
Bila sampai waktunya, ia akan tiba.
Pergunakan kinerjamu sebaik mungkin.
Mencintailah selagi engkau siap, bukan dikala engkau kesepian.

----

Teruntuk pemilik raga dan seluruh alam,

Terimakasih telah memberiku nafas sampai sembilan belas tahun lebih empat bulan dan dua puluh dua hari.



Salam,


Dek Agit

Jumat, 20 Desember 2013

Surat Ke-20; Surat Balasan dari Ayi


Sepulangnya dari berobat di salah satu RS di daerah cibubur gua di ajak pacar gua ya namanya "aditya brigif sani" ke kampusnya, sumpah gua asing banget secara gua ga pernah kuliah sebelumnya jd gua ga tau gimana sepantasnya jadi anak kampusan.. selama di perjalanan ke kampus gua bingung, ngapain ya gua nanti disana?? ternyata si pacar punya ide cemerlang, yaeach gua diajak ke perpustakan. dan dia berpesan "nanti jangan kaya orang bingung ya anggap aja lo bukan orang asing"

sesampainya adi perpustakaan gua langsung ditinggal begitu aja, sumpahhh terasa asingg... dan gua bertanya pada diri gua sendiri APA YANG HARUS GUA LAKUKAN? akhirnya gua memutuskan untuk buka komputer di dalam perpus terdebut, langsung deh buka internet dan sok cari2 tugas gitu hhahahhahah,

tau ga apa yg gua pikirin disaat buka tugas? gua buka makalah dulu gua sekolah, dan itu terdapat di blogger "agita violy" temen gua waktu kecil dan sahabat dekat gua waktu gua berada di smk analis kesehatan..
tau apa yg gua temuin di blok agita (bijih) kenangan di tahun 2009..

kenangan itu membuat gua terharu bahkan mau ketawa sendiiri melihat kealayan gua waktu bermain sama bijihku, kenangan itu hampir aja terhapus dipiikiran gua, mau tau kenangan apaan aja?

1. tahun 2009 ke ancol bersama keluarga dan sibijih dan keluarga besar
tepat pagi hari sigita sudah sampai rumahku, kami sekeluarga bergegas pergi ke ancol perjalanan sungguh sangat padat. setibanya di ancol. kami langsung mencari tempat singgah dan menggelar tikar untuk istirahat. lalu gua dan agita langsung bergegas ke area panggung utamanya, jarak antara panggung dan tempat kami bersinggah jauh banget,,, begonya gua pas acara puncaknya gua ga pake sepatu. alhasil keiinjek2 orang2 sekitar.

2. awal tahun 2009 nonton rocketrockers di salah satu SMA negri bekasi
kali ini kita tuh udh kaya anak yg sedang cabut dari sekolah, mengendap2 mengambil celana praktek dari ruang ganti laboratorium untuk pergi ke SMA tersebut soalnya ini konser ternyata hanya untuk siswa-siswi SMA tersebut.

3. grand lounching thechangcuters
grand lounching ini diadakan la piaza kelapa gading, disana gua dapet pick gitarnya si akang alda dari anak kecil yg abis berfoto dengan si akang seneeeng banget rasanya. sebenernya gua tau sih si gita mau, tp gimana boleh buat jarang2 loh bisa dapetinnya, hehhehe maaf ya gitaa.


21 November 2012


Kamis, 19 Desember 2013

Surat Ke-19; Sellytha Tanari

Kamis, 19 Desember 2013


Dear, Ayi...

Gimana kabar Ayi?
Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT, ya. Satria dan Papa juga baik-baik, kan di rumah? Jangan suka marah-marah, ah. Mama di surga pasti sedih kalau lihat Ayi marah-marah atau sering nangis.

Tiap Sabtu - Minggu sekarang Ayi di Bandung, ya? Yang rajin kuliahnya, jangan sering bolos. Di imbangin juga sama kerjanya dari Senin sampai Jum'at. Bogor - Bandung nggak boleh bikin Ayi sakit! Ayi kan kuat :)

Cita kangen Ayi, nih.
Makanya Cita bikin surat buat Ayi.

Ayi, inget gak kita udah pernah kemana aja?
Kita pernah ke Jogja bareng, muterin Jakarta naik transjakarta, ngakak di balik tumpukan baju bekas di Pasar Senen, terakhir ke Puncak Bogor naik motor. Ayi ingat, kan?

Satu hal yang paling bikin Ayi sedih, waktu Ayi tujuh belas tahun, 19 Juli 2011. Tanggalnya bentrok sama acara LDKS adik kelas. Cita nggak dateng, Ayi kecewa banget sampai nggak mau ngomong berhari-hari. Maafin Cita, ya Ayi?

Sampai sekarang, Cita selalu sedih kalau lihat teman-teman yang punya sahabat masa kecil. Mereka kayaknya akur banget, kemana-mana bareng. Sementara Cita kemana-mana sendiri, apa-apa sendiri. Tapi Cita selalu ingat Ayi, sahabat kecil Cita dari lahir. Walaupun udah jarang bisa ketemu atau jalan bareng, tapi Cita yakin Ayi selalu kangen Cita. Iya, kan? Ngaku!

Ayi kapan mau naik gunung? Yuk!

Ah, iya. Satu lagi. Adit kapan ngelamar Ayi? Kiw kiw :*


Salam Sayang,


Cita

Rabu, 18 Desember 2013

Surat Ke-18; Andai Saja

Rabu, 18 Desember 2013


Hai...
Kamu lagi apa?
Kamu tahu, nggak, aku lagi mikirin apa?
Aku sedang berandai-andai di bawah langit gelap Bekasi, nih.
 
Andai saja kamu tak mengajakku foto berdua di pintu hutan, atau di pantai yang sunyi itu...
Andai saja kamu tak menelfon temanku ketika aku pulang, padahal henfonku mati, namun ternyata kamu cerdik. Pura-pura telfon temanku, tapi ujung-ujungnya ngomong sama aku.
Andai saja kamu tak menemukanku di sudut jalan pemuda...
Andai saja kamu tak mengajakku ke rumahmu dan mengenalkanku pada ibumu...
Andai saja kamu tak mengantarku ke stasiun...

Andai saja kamu tak menggenggam tanganku erat tiap kali kita berpisah...

Andai saja kamu tak memulai percakapan lebih dulu ketika aku menyeberang dari Gilimanuk menuju Ketapang, mungkin sampai saat ini kita akan saling diam.

Mungkin aku tak akan pernah berharap sejauh ini...

Mungkin aku masih sibuk dengan duniaku sendiri, tanpa peduli dengan siapa aku harus berbagi...

Kamu pernah berandai-andai tentang kita, nggak?
Cerita, dong!
Ku tunggu ceritamu, ya :)


Salam,


Dek Agit 

Selasa, 17 Desember 2013

Surat Ke-17; Sedang Kesal

Selasa, 17 Desember 2013


Apa Kabar?

Mungkin dua kata di atas sudah terlalu familiar sebagai kalimat pembuka surat. Aku tak akan mengucapkan selamat pagi, siang, sore atau malam kepadamu. Aku hanya ingin tahu kabarmu.

Beberapa hari ini kamu menghilang. Lagi. Untuk yang ke-sekian kali. Entah apa yang kamu pikirkan saat ini sehingga rasanya jarak yang telah terbentang jauh di antara kita, semakin bertambah jauh. Kamu, semakin tak tergapai olehku.

Aku harap kamu baik-baik saja. Walau disini keadaanku tak begitu baik. Aku demam lagi, sakit lagi. Setelah dua hari lalu bertahan dalam hujan lebat dan harus berjuang melintasi banjir hingga tengah malam. Namun sepertinya kamu tak tertarik untuk tahu itu, bukan? Kamu sudah tak se-peduli dulu lagi. Kamu... entahlah. Aku rasa kamu berbeda. Atau ini hanya pendapatku saja?

Aku sakit lagi.
Dan keadaan itu semakin parah karena nafsu makanku yang semakin menghilang. Bahkan sebuah pisang atau sebatang cokelat yang biasanya tak pernah ku tolak, kali ini hanya hambar di mulut. Hitung-hitung menahan diri dari serangan rindu yang bertubi-tubi, yang kadang membuat emosiku naik karena kamu tak kunjung berkabar, akhirnya aku memutuskan untuk berpuasa. Dan ini telah berjalan hampir satu minggu. Namun sekali lagi, kamu tak perlu tahu.

Udah, ah.
Aku bete.


Gak usah pake salam-salaman

Senin, 16 Desember 2013

Surat Ke-16; Tujuh Belas Bulan

Senin, 16 Desember 2013


Haloooo.. Ghania kecil yang menggemaskan.

Hari ini, tepat di tanggal enam belas, kamu genap berusia tujuh belas bulan.
Gigimu sudah tumbuh enam dan kaki-kakimu yang gempal sudah lincah berlarian. Suaramu semakin nyaring dan gelak tawamu selalu sukses menjadi peredam lelahku setelah seharian beraktivitas di carut-marut Ibu Kota.

Ghania sayang,
Semenjak ada kamu, senyum Ibu tak pernah luntur.
Semenjak ada kamu, aku mulai bisa mengurus bayi.
Semenjak ada kamu, aku yang biasanya lupa untuk pulang ke rumah jadi tak betah berlama-lama di luar.
 
Kini, aku selalu kangen rumah.
Aku selalu kangen kamu.

Pernah beberapa kali, aku buru-buru pulang dan membeli makanan kesukaanmu sebagai buah tangan, namun ternyata aku kemalaman. Kamu sudah tidur lelap dalam buaian Ibu dan kain kesayanganmu itu. Rasanya sedih sekali memakan kue pisang seorang diri, tanpa rebutan dulu denganmu.

"Attaaaaaaaa!!!" Teriakmu memanggil namaku setiap pagi, siang, sore, malam.

Setiap pagi, kamu yang membangunkanku.
Setiap siang, kamu yang menyambutku sepulang dari kantor.
Setiap sore, kamu yang memberi cengiran hangat sepulang aku mengajar.
Setiap malam (kalau belum tidur), kamu yang menghapus lelahku sepulang kuliah.

Tiap kali mau naik gunung, kamu pasti mengacak-acak gear yang telah rapi di packing didalam carrier ku. Lalu dengan mata berbinar, kamu terpana melihatku mengenakan carrier yang tingginya melewati kepala. Mungkin kamu belum mengerti apa yang akan ku lakukan dengan tas sebesar itu. Hihihi. Cepat besar, ya! Nanti kapan-kapan Ata ajak naik gunung :*




Salam,


Atta-atta


Minggu, 15 Desember 2013

Surat Ke-15; Untuk Lelaki Pilihan Kakak Perempuanku

Minggu, 15 Desember 2013


Hai, Lelaki yang mewarnai hari-hari kakak perempuanku selama tujuh tahun terakhir ini...

Alhamdulillah, telah tiba saatnya hari yang kalian tunggu-tunggu. Akhirnya, setelah tujuh tahun hubungan kalian berjalan dengan jatuh-bangun, resah-sumringah, putus-nyambung... kamu dan keluarga besarmu datang ke rumah kami. Datang untuk melamar kakak perempuanku.

Kamu datang dengan kemeja batik formal. Baru kali ini aku melihatmu begitu tegang dan diam. Begitu pula dengan kakak perempuanku. Ia nampak anggun dalam balutan gamis dan kerudung yang menundukkan pandangannya. Orang tua kami tersenyum haru sejak pagi.

Terimakasih, telah membuat kakak perempuanku setia dalam kepercayaannya menjalin hubungan denganmu. Kamu adalah cinta pertamanya. Kamu yang menjaganya sejak ia rantau ke Jakarta, saat di bangku SMA, tujuh tahun lalu. Dan aku percaya kalau kalian bisa bersatu dalam tali pernikahan yang tak terasa tinggal itungan hari.


Setelah kakak perempuanku menikah denganmu, aku akan jadi anak pertama di rumah. 
Sering-sering main ke rumah, ya!


Salam,


Acitaaa

Sabtu, 14 Desember 2013

Surat Ke-14; Untuk Wanita Pilihan Adik Lelakiku

Sabtu, 14 Desember 2013


Hai, wanita yang menggalaukan adik lelakiku satu-satunya...

Aku mengenalmu dua setengah tahun lalu, ketika kamu dan adikku menjalani masa orientasi di sekolah tempat ku dulu menuntut ilmu. Aku memainkan peran sebagai kakak kelas yang menyuruh-nyuruh kalian layaknya seorang senior. Dari situ, kamu terlihat seperti anak bau kencur yang manja. Sementara adikku terlihat seperti anak yang tak peduli dengan siapapun. Ia cuek dan bodo amatan.

Seiring waktu berlalu, kalian berdua tumbuh besar. Kebersamaan yang kalian jalin dalam satu kelas selama dua tahun setengah mulai membuat adikku berbeda. Ia menjadi pemerhati yang baik, dan kamu menjadi wanita yang sabar. Kalian mulai dekat ketika sekolah mengadakan acara sahur bersama. Tanpa ijin, adikku meminjam motor kakaknya tanpa mengajakku. Padahal ia tahu kalau aku mau ikut. Aku penasaran. Kebetulan teman seangkatanku menjemput ke rumah agar ikut sahur bersama. Dan ternyata, aku melihat adikku memboncengimu.

Kamu beruntung bisa membuat adikku jatuh hati. Ini adalah kali pertamanya ia memiliki hubungan dengan seorang wanita. Aku tahu, ia masih sering cuek dan tak peka. Kamu pun masih sering manja dan ambekkan. Namun percayalah, ia setia. Jika kamu bisa bersabar dan mampu bertahan, kelak hubungan kalian akan lama.

Selamat tiga bulanan :)
Yang awet, ya!


Salam,


Kakak Cita

Jumat, 13 Desember 2013

Surat Ke-13; Dear Agita

Jum'at, 13 Desember 2013



Selamat Tanggal Tiga Belas, Agita!
Selamat Hari Jum'at!

Aku tahu, kamu selalu menyukai hari Jum'at dan begitu mencintai tanggal tiga belas. Maka dari itu, aku membuat surat khusus untukmu tepat di hari dan tanggal ini. Entah apa yang membuatmu begitu mengagung-agungkan hari dan tanggal ini. Padahal menurut sepengetahuanku, kamu tak pernah jadian dengan seseorang pada tanggal tiga belas maupun hari Jum'at. Ah, sudahlah...

Aku tak akan menanyakan kabarmu. Karena seperti biasa, kamu pasti sehat dan baik-baik saja.

Jadi, yang akan aku tanyakan adalah... Bagaimana kabar hatimu, Agita?
Dengar-dengar kamu sedang jatuh cinta, ya? Semoga kali ini tak jatuh asal-asalan lagi, ya! Sudah cukup banyak luka yang mereka (mantan-mantanmu) buat di hatimu. Kamu terlalu polos untuk percaya dengan janji palsu mereka. Ah, semoga saja lelaki yang membuatmu jatuh hati kali ini tak seperti yang sebelumnya. Aku tau, ia cukup baik dan bertanggung jawab.

Tepat di tanggal 13 Desember tahun lalu adalah pertama kalinya kamu mencoba nonton bioskop sendirian. Film pertama yang kamu tonton sendiri adalah 5cm. Dan mulai saat itu, kamu berhasil melakukan apa-apa sendiri. Naik gunung sendiri, kemana-mana sendiri, marathon film sendiri.

Aku cuma mau mengingatkan, 
Jangan terlalu nyaman dengan kesendiriamu itu, ya. Ada baiknya suatu saat nanti kamu melakukan sesuatu berdua, menjalani hubungan serius dengan lelaki pilihanmu. Sendiri memang indah, tapi ingat lagu Boys Like Girls; "Two is Better Than One!"


dari sisi lain dirimu,

Vio,
yang suka ceplas-ceplos. 

Kamis, 12 Desember 2013

Surat Ke-12; Ibu Kantin dan Bapak Pengantar Minum

Kamis, 12 Desember 2013


Selamat Pagi, Ibu Kantin yang ramah.
Pagi ini kau terlihat segar dengan setelan gamis dan kerudung berwarna merah muda. Seulas senyum tipis di bibirmu nampak berwarna lebih merah dari biasanya. Ah, pasti hari ini kau dandan, ya?

Kau selalu memarahi, bila aku hanya membeli sebungkus kerupuk atau mencomot dua buah gorengan untuk makan siang. "Makan yang benar, pakai nasi." Katamu tegas, namun aku tak pernah menurut. Malah kabur dari kantin agar tak kau suruh makan lagi.

"Gimana mau besar kalau makannya cuma kerupuk atau gorengan!!" Kau selalu berteriak seperti itu sambil mengarahkan centong sayur yang kau genggam ke arahku. Lagi dan lagi, aku hanya terkikik geli.

Kau punya partner di kantor tempatku bekerja. Menurutku, umur kalian tak begitu jauh. Seorang bapak dengan badan yang nampak kurus sepertimu, setiap hari bertugas mengantar minum ke ruanganku.

"Selamat Pagi, Mbak Gita. Ini minumnya pagi ini. Teh panas seperti biasa, tidak begitu manis." Ujar si Bapak tiap kali mengantar minuman. Aku tak akan kabur atau terkikik seperti saat Ibu Kantin menyuruhku makan. Aku akan menyambut si Bapak dengan ucapan terimakasih. Teguk demi teguk teh yang kau buat menemaniku bekerja dari pukul delapan pagi hingga pukul dua siang.

Hmmm... Sayang sekali. Teh pagi ini sedikit lebih manis dari biasanya, Pak!

Ah, kalian. 
Begitu perhatian dengan asupan giziku selama di kantor.
Andai saja kalian mengerti internet, pasti surat ini membuat kalian haru membacanya.

Sudah, kembali bertugas. 
Selamat melayani pelanggan, Ibu Kantin yang ramah...
Selamat mengantar teh ke ruangan lain, Bapak Pengantar Minum yang baik hati...


Salam,


Mbak Gita
Divisi Laboratorium

Rabu, 11 Desember 2013

Surat Ke-11; Selamat Hari Gunung Internasional

Rabu, 11 Desember 2013


Dear, Pendaki di Seluruh Dunia...

Kau langkahkan kaki-kakimu belasan hingga puluhan kilometer,
Kau tapaki lembah-lembah dan hutan belantara tanpa takut tersesat,
Kau lawan rasa dingin yang menyelimuti badanmu,
Kau tancapkan bendera negaramu pada ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.

Apa tujuanmu?

Aku tahu kau lelah, namun kau tak pernah menyerah.
Puncak harus diraih, katamu.
Kebersamaan harus dijaga, lanjutmu.
Alam ini milik kita, rumah kita, jangan semena-mena padanya, ceramahmu.

Aku tak tahu apa yang kau cari di puncak-puncak gunung tertinggi,
Aku sendiri tak tahu apa yang ku cari setahun belakangan ini,
Yang aku tahu, aku menemukan hidupku sendiri,
menemukan jati diri,
disana,
di puncak-puncak gunung tertinggi.

Ada rasa takut yang menyelimuti, ketika raga begitu dekat dengan kematian,
Ada rasa bahagia, ketika raga begitu dekat dengan Sang Pencipta.

Ada rasa bangga, ketika kita memilih menjadi pemuda yang lebih tertarik untuk menjelajah alam daripada menghabiskan waktu dan uangnya untuk narkotika.

Ada rasa yang hanya bisa kita rasakan sendiri, ketika kita lebih memilih menghabiskan malam di tenda-tenda kesunyian dan berjalan gelap-gelapan demi mengejar mentari pagi daripada menghabiskannya dengan hiburan malam. 


Foto dari @Kengaga_KRSB


Sebuah negara tak akan kekurangan sosok pemimpin, jika generasi mudanya suka berpetualang di hutan, gunung dan lautan - Sir Henry Dunant.





Salam Lestari,


Dek Agit

Selasa, 10 Desember 2013

Surat Kesepuluh; Si Mancung

Selasa, 10 Desember 2013


Mancung, apa kabar?
Belasan fotomu masih tersimpan rapi di galeri henfonku. Tiap kali melihat mata sipitmu, rasanya hatiku berdesir pilu.

Enam tahun kita bersama. Sejak aku lulus SD hingga lulus SMA. Aku tak pernah tahu bagaimana kau tiba-tiba hilang dan tak ada kabar. Ku coba mencarimu ke setiap sudut perumahan, namun suara nyaringmu tak lagi terdengar. Tak ada lagi yang menyahut tiap aku meneriakkan namamu.

Tempe goreng adalah menu favoritmu. Bukan ikan asin seperti yang lainnya. Hobimu bermain bola dan menangkap capung. Beberapa kali ku temukan kebiasaan burukmu mengacak-acak lemari baju dan tertidur dalam buntelan kain. Ada-ada saja.

Tak terasa, sudah hampir tiga tahun kita berpisah. Semoga kau tenang di alam sana. Anak-cucumu mirip sekali denganmu! Mereka seringkali berkeliaran didepan gang dan memiliki warna yang sama denganmu!



Mancung dan Lidahnya


Mancung dan Mata Sipitnya


Dulu, kau punya saudara kembar yang ku beri nama Monyong dan Manyun. Namun keduanya tak bisa bertahan hidup lebih lama. Oleh karena itu, aku memberimu nama yang berbeda. Tak lagi berhubungan dengan mulut, tapi hidung. Ya, jadilah namamu Mancung :)



Salam,


Dek Agit


Senin, 09 Desember 2013

Surat Kesembilan; Semu

Senin, 9 Desember 2013


Hai, orang yang mengenalkanku pada keindahan laut selatan dua tahun lalu...
Sudah besar-besarkah anakmu?
Semoga keluarga kecilmu selalu bahagia dalam lindungan-Nya.
Sore tadi, aku iseng membuka kembali folder foto kita.
Seketika menemukan sebuah foto, terlintas di benakku untuk membuatkanmu sebuah puisi.
Baca baik-baik, ya!


Di antara pecahan karang
Di hadapan ombak laut selatan
Di atas tebing Pantai Drini

Di bekas jejak-jejak pasir
Di sisi para pencari bulu babi
Di dalam geliat bintang laut

Nun jauh dari bayangan Merapi
Di kedamaian gunung kidul ini
Ku teriakkan namamu

Semu!


Salam,

Dek Agit 

Minggu, 08 Desember 2013

Surat Kedelapan; Arjuna

Minggu, 8 Desember 2013


Kepada Arjuna, sang pemanah dalam kisah wayang Mahabarata...

Parasmu menawan, hatimu terang benderang. Aku tak pernah tahu bagaimana cerita dan asal-usulmu. Orangtuaku tak pernah mendongengkannya semasa aku kecil. Aku mengenalmu dari google dan wikipedia. Dengan mencarimu melalui mesin telusur saja, telah membuatku jatuh hati.


Kepada Arjuna, gunung yang terletak berdampingan dengan Welirang...

Melatar belakangi kota Malang, Jawa Timur. Kau berdiri kokoh dengan ketinggian 3.339 mdpl. Aku juga belum sempat mengunjungimu. Terlalu ciut mentalku mendengar cerita mistis yang menjadi pesonamu. Tenang saja, masih banyak waktu untuk kita bertemu.


Kepada Arjuna, laptop baruku...
Jangan cepat rusak, ya! Sengaja aku menamakanmu Arjuna, agar bisa seperti mereka :)


Salam,

Dek Agit

Sabtu, 07 Desember 2013

Surat Ketujuh; Celengan Ayam

Sabtu, 7 Desember 2013


Selamat pagi, celengan ayam yang bertengger di sudut meja belajar. 

Kerap kali aku membayangkan, ayam jagoku ini dapat berkokok seperti ayam tetangga. Yang setiap paginya berisik membangunkanku dari tidur panjang tanpa mimpi. Atau, bila kau betina, setidaknya kau bisa bertelur dan menghasilkan pitik-pitik ayam yang bisa aku cat warna-warni. Ah, membayangkannya saja aku ngikik sendiri.

Kau terbuat dari plastik. Berbeda dengan celengan ayam lainnya yang dibentuk dari tanah liat. Ibu pernah berpesan agar tak menabung di celengan tanah liat, mengapa? Jika disimpan terlalu lama di dalam sana, uang yang terbuat dari kertas bisa memudar warnanya. Begitulah katanya. Daripada menyesal ketika membuka nanti, lebih baik ku turuti saja.

Tiga tahun sudah umurmu, bersamaan dengan tiga tahun aku memiliki penghasilan sendiri...

Jadi begini, laptopku rusak. Sementara masih banyak yang harus ku kerjakan dengan menggunakan keyboard, monitor dan internet. Sebuah ponsel saja tak cukup untuk mendukung kinerjaku. Tabungan di rekening nampaknya masih kurang, mengingat selama setahun ini aku boros luar biasa ketika bepergian keluar kota. Ditambah lagi biaya awal semester yang nggak tanggung-tanggung. Maka dari itu, aku butuh kerja sampingan. Dan mau tak mau harus menggunakan laptop. Kamu mengerti kan maksudku? Sudah saatnya aku mengambil apa yang telah kau jaga baik-baik disini.

Hmm... Kau sudah siap? Anggap saja kita sedang melakukan operasi bedah plastik. Kau pejamkan mata saja. Bayangkan cutter yang ku genggam ini tidak sakit. Tenang, kau tak akan berdarah.

Sudah, jangan bersedih. Kelak kau akan punya pengganti. Pemilikmu ini selalu membiasakan diri untuk menabung, kok.


Nanti sore uangnya mau dipakai beli notebook. Doakan dapet yang cocok, ya!


Salam,


Dek Agit

Jumat, 06 Desember 2013

Surat Keenam; Kilat Khusus untuk Hujan

Jum'at, 6 Desember 2013


Kepada, rintik hujan yang berlomba-lomba  jatuh ke bumi...

Tiada yang lebih tabah darimu, hujan. Kau tak pernah lelah menciumi bumi yang kering hingga basah, tanpa pernah berharap balas. Tetes demi tetesmu menyeruakkan aroma tanah merah, parfum alam yang menenangkan  seluruh panca indera. Menyeruak hingga sesak memenuhi rongga dada. Begitu pun alunan rintikmu, bagai terapi bagi gendang telinga yang hidup di kota bising ini.

Tiada yang lebih tabah darimu, hujan. Kau tak pernah marah ketika kami mengeluh atas kehadiranmu yang kadang tak diharapkan. Kau tak pernah kecewa ketika kami yang mengaku-ngaku mencintaimu,  namun tak mau disentuh olehmu. Kami tetap saja melindungi kepala dusta ini dengan payung-payung kesombongan. Tak membiarkan kepala kami dibelai oleh buaian rintikmu.

Tiada yang lebih tabah darimu, hujan. Kau menerima alasan kami menghindarimu karena takut sakit. Kau dengarkan segala harapan kami agar tangismu segera mereda.

Terimakasih, hujan...
Tiap tetesmu memberi berkah bagi kami.


http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/10/04/173983_hujan_663_382.jpg



Hari ini kehujanan, sampai kebanjiran. Suratnya baru aku kirim menuju tengah malam. Semoga bisa sampai pada tanggal yang sama, ya! Kan sudah pakai kilat khusus :)


Salam,


Dek Agit

Kamis, 05 Desember 2013

Surat Kelima; Kereta Ekonomi

Kamis, 5 Desember 2013


Kepada kereta ekonomi yang selalu tabah..

Aku rindu bersandar pada dinding-dindingmu. Menatap luas keluar jendelamu. Melintasi pematang sawah, menyoraki anak-anak kecil bermain layang-layang. Aku juga rindu pergantian hari yang selalu kurasakan di lamanya perjalananmu. Sore menuju malam, malam berganti pagi. Biasan senja dan fajar bergantian membangunkanku yang tertidur bersandarkan jendela. 

Aku rindu suara-suara di dalam gerbongmu. Penjual nasi rames, telur asin, kopi, pop mie, dan banyak lagi, berlomba-lomba berteriak sekeras mungkin untuk menjajakan dagangannya. Bercengkerama dengan penumpang lain di gerbongmu. Atau sekedar duduk diam sambil membayangkan betapa asyiknya kota tujuanku. Aku juga rindu suara dengkuran halus yang berasal dari kolong kursimu. Rasanya lucu tiap kali berjalan di sepanjang gerbong dengan mengendap-endap menghindari kaki-kaki yang menjulur keluar. Iya! Beberapa penumpangmu kerap kali tidur di kolong kursimu hanya dengan beralaskan koran. 

Kini, tiap dindingmu dilengkapi dengan stop kontak dan aliran listrik. Hal ini memudahkan setiap penumpang untuk men-charger gadgetnya. Aku jadi mudah menghubungi orang yang akan menjemputku sesampainya di stasiun tujuan tanpa harus takut ponselku mati. Ah iya, seharusnya akhir November kemarin aku menggunakan jasa kereta ekonomi dengan tujuan Pasar Turi, Surabaya. Aku telah memiliki tiket kertajaya pulang-pergi. Namun Tuhan berkehendak lain, aku memiliki kegiatan lain yang tak bisa kutinggal. Tiket trip terakhir di tahun 2013 hangus sudah.




Aku rindu rasanya membuat cemas orang yang menungguku di stasiun tujuan...
Aku rindu rasanya dipeluk ketika sampai atau pulang...
Aku rindu...
Kamu.



Dear Dirut KAI,
Bolehkah tiket kereta tahun depan tak usah dinaikkan seratus persen?
Jika saja rinduku ini bisa dijual, mungkin aku bisa membeli tiket pulang pergi ke kotanya setiap akhir pekan---saking banyaknya rindu yang harus kutahan.



Salam


Dek Agit

Rabu, 04 Desember 2013

Surat Keempat; Sebuah Ruang Tamu

Rabu, 4 Desember 2013


Assalamu'alaikum, Ruang Tamu di sebuah rumah sederhana yang begitu hangat...

Aku masih tak percaya ketika menjejakkan kaki di lantaimu yang begitu putih dan bersih, sementara aku kotor dan kumel karena seharian belum mandi akibat perjalanan jauh. Sepertinya pemilikmu benar-benar rajin merawatmu, ya?

Aku juga sempat terpana ketika menemukan sebuah Al-Qur'an berukuran besar dan kacamata teronggok rapi di atas meja kecil yang menjadi pusat di ruanganmu. Tak lama, seorang ibu dengan usia lanjut menemaniku bercengkerama. Aku kikuk bukan main, ternyata itu sang Nyonya Rumah!

Aku dijamu, segala macam makanan dikeluarkan. Al-Qur'an disimpan rapi, kemudian diganti dengan biskuit dan buah. Sang Nyonya Rumah menanyakan darimana asalku, kenal dimana dengan anaknya dan masih banyak lagi. Ah, pasti dinding-dindingmu mendengar tiap percakapan kami.

Tak lama aku dipersilakan untuk mandi dan membersihkan diri. Selesai itu, aku duduk lagi di salah satu kursimu. Kali ini aku dihadapkan dengan pemilikmu, orang yang membawaku kesini. Ku perhatikan sekelilingku. Ada sebuah frame besar yang berisi foto-foto anak kecil. Kemudian sebuah kipas angin disudut ruangan. Pemilikmu bercerita banyak hal dengan semangat! Ku lihat senyumnya yang begitu bahagia. Tatapan matanya yang teduh ku rekam dalam-dalam di ingatan.



Maaf ya, diam-diam aku punya foto ini :)

Hmm..
Semoga kelak aku bisa duduk di kursi ini lagi, melantunkan ayat-ayat suci dengan Al-Qur'an yang tergeletak di meja sambil menunggu pemilikmu pulang bekerja.
Semoga kelak aku bisa duduk di kursi ini lagi, mendengarkan setiap cerita dan keluh kesah pemilikmu.
Semoga kelak aku bisa duduk di kursi ini lagi, menemani pemilikmu minum teh bersama.
Terimakasih, Ruang Tamu yang penuh cerita :')



Sampai jumpa lagi, ya! Wassalamu'alaikuuum...


 Salam


Dek Agit 

Selasa, 03 Desember 2013

Surat Ketiga; Teruntuk Kalender 2014

Selasa, 3 Desember 2013



 


Hai, Kalender 2014...
Sebetulnya aku sudah memilikimu sejak lama. Namun baru-baru ini ku perhatikan betul isinya. Ku tatap jelas-jelas setiap tanggal yang kau beri warna berbeda. Karena itu artinya hari libur tiba.

Ternyata, banyak juga yah hari libur yang kau berikan di tahun 2014 esok. Pasti teman-teman sesama traveler sudah sibuk berburu tiket dari jauh-jauh hari dan menyusun itinerary untuk berakhir pekan se-asyik mungkin. Bagaimana dengan perencanaan tripku? Apakah kau mau tahu? Ahh.. Aku punya project besar untuk tahun depan yang tidak bisa ditinggal sewaktu-waktu. Mungkin, bila memang ada rejeki, di libur panjang bulan Mei aku akan berkunjung lagi ke kediaman Anjani di Lombok. Itu pun kalau dia ikut.

Ah, dia! Apa ya, rencananya tahun depan?
Apa tahun depan ia menjajaki dataran-dataran tinggi lagi? Apa tahun depan ia melangkahkan kaki keluar pulau Jawa lagi? Apakah tahun depan hasil foto jepretannya masuk koran Jawa Pos lagi?

Terserahlah dia mau apa, aku mau dirumah saja. Tak kemana-mana. Ibu sudah mengingatkanku agar menabung untuk masa depan. Lagipula dia telah berjanji bila ada libur panjang akan berkunjung kesini.

Aku tak pernah sebesar ini menaruh harapan kepada seseorang. Dan sampai saat ini aku masih berharap, kamu benar-benar datang. Ayah Ibu udah nunggu kamu dirumah :')


Salam

Dek Agit

Senin, 02 Desember 2013

Surat Kedua; Masih Untukmu

Senin, 2 Desember 2013


Selamat Senin pagi, kamu...

Bagaimana semangatmu hari ini? Semoga kerjanya lancar dan berkah, ya! Mumpung masih awal bulan, aku cuma mau ngingetin biar kamu nggak lupa. Ojok lali nyelengi, gawe rabi. Hihihihi :))

Di kotaku hujan terus, nih. Kotamu juga, kan? Jangan pernah lupa membawa raincoat, ya. Hujan bisa datang kapan saja, sama seperti cinta. Kalau sewaktu-waktu kehujanan, jangan lupa cuci kepalamu dengan air keran. Kalau kamu lupa, nanti pusing loh. 

Pernah suatu waktu aku bertanya dengan paniknya, "kamu kehujanan?" dan hanya kamu jawab dengan lembut, "hujan tahu jiwa siapa yang kering..."

Hmmm... ternyata rasa sayang yang tiap hari aku alirkan, gak cukup bikin jiwa kamu basah...
Maaf ya :') 


Salam

Dek Agit