Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

Ibu Penjual Susu Kedelai di Gerbong Commuter Line

"Mbak mau susu kedelai?" Tanya seorang Ibu paruh baya, dengan sebagian rambutnya yang telah dipenuhi uban, dan mata sipitnya yang tampak begitu kelelahan.

Saya memperhatikan dalam diam, bingung. Aturan dilarang berdagang telah terpampang jelas hampir di seluruh bagian gerbong Commuter Line. Padatnya gerbong khusus perempuan juga membuat siapapun merasa risih bila ada yang berjalan selangkah demi selangkah hanya untuk menawarkan dagangannya. "Satunya tiga ribu, untuk berbuka puasa." Tambahnya lagi dengan wajah yang senyumnya tak kunjung mengendur.

Merasa iba, seorang ibu yang terlihat baru habis berbelanja baju lebaran, memesan lima bungkus susu kedelai. Untuk keluarga di rumah, katanya. Lantas si ibu paruh baya segera mengeluarkan lima bungkus susu kedelai dari tas ransel yang sedari tadi menempel di punggungnya. Gerakannya membuat remaja di kanan-kirinya sontak menoleh karena terkena tas yang digeser. "Ibu setiap hari jual susu kedelai di sini?" Tanya si ibu pembeli.

"Iya, biasanya hanya di gerbong khusus perempuan." Jawab ibu penjual susu kedelai, masih dengan senyumya yang menunjukkan begitu banyaknya keriput menghiasi wajahnya.

"Dari sini mau kemana lagi?"

"Habis sampai Manggarai, nanti saya balik lagi naik kereta yang lain. Pindah-pindah terus, seperti itu." Jawab ibu penjual susu kedelai tanpa merasa malu. Kegigihannya berjualan secara sembunyi-sembunyi patut diacungi jempol karena tadinya, saya berpikir bahwa Ibu ini mau pulang kampung karena membawa dua buah totebag kanan-kiri dan menggendong sebuah ransel yang ukurannya lebih besar dari punya saya.

Waktu berlalu. Namun si ibu penjual susu kedelai tak kunjung menghampiri saya yang sangat ingin membeli dagangannya. Jarak saya terlalu jauh dengan tempat berdiri si ibu. Dan apa yang saya ceritakan barusan hanyalah pengamatan saya dari pojok bangku Commuter Line yang hanya bisa membisu, seperti saya.

Kereta tiba di Stasiun Manggarai, sementara tujuan saya masih jauh. Dan ibu penjual susu kedelai melangkah turun bersana pengguna Commuter Line yang lain.

Ketika orang-orang berdesakkan dan tak mau kalah untuk masuk ke kereta yang menjadi tujuannya masing-masing, ibu penjual susu kedelai tetap memasang senyumnya. Berharap ada satu orang dari mereka yang membeli isi dari tiga buah tas yang ia bawa. Tanpa merasa takut dengan petugas yang siap menyeretnya keluar dari kereta kapan saja.





Stasiun Manggarai, 11 Juli 2015.


<span data-iblogmarket-verification="D1mJG9zh_LxT" style="display: none;"></span> 

Kamis, 09 Oktober 2014

Bukan Cinta Sesaat

Perahu nelayan mulai menjauh dari daratan. Sepotong jingga menghiasi langit di atas kepalaku. Tak hanya itu, bulan sabit juga turut menemani pergantian hari yang panjang dan melelahkan ini. Aku tak tahu, sampai kapan aku harus berpura-pura tidak menaruh hati padanya, seorang lelaki yang dengan mudahnya terlelap berbantalkan kusen kapal, di tengah arus muara sungai yang mulai pasang dan membuat kapal semakin bergoyang tak karuan. Aku memandangi wajahnya. Mendadak kepalaku pusing dan perlahan tanganku refleks memijat kening.

"Kenapa? Mabuk?" Tanyanya dengan tatapan syahdu. Ia kerap kali memandangku seperti ini. Namun aku tetap tidak percaya dengannya. Semua lelaki sama saja, manis di awal. Dasar pembual.

"Nggak tahu. Aku belum makan. Memang suka begini." Jawabku jujur. Raut khawatir terlintas di wajahnya. Sejurus kemudian, lengan kanannya menyelinap melewati punggung, meraih bahuku. Aku tergagap memandang wajahnya. Kini, aku dan ia berjarak hanya sebatas hembusan nafas saja. Merasa canggung dilihat oleh penumpang lain di kapal, aku menundukkan kepala dalam-dalam, tepat di bahunya. Aroma tubuhnya menyeruak masuk ke dalam jantungku yang semakin melompat-lompat. Namun di sisi lain, zat feromon dari tubuhnya menstimulasi pikiranku. Semacam candu, ia benar-benar adiktif dan membuat diriku melayang ke nirwana.

"Tidur saja. Perjalanan kita masih lama." Suaranya terdengar pelan karena degup jantungnya yang terdengar seperti dentuman yang meletup-letup di telingaku. Tangannya yang tadi meraih bahuku, kini mengelus kepalaku lembut. Memastikan bahwa aku benar-benar nyaman di sisinya.

"Kamu nggak pegal?" Tanyaku ragu. Ia menggeleng pelan, dan kembali melengkungkan senyuman. Aku tertidur karena mabuk. Mabuk laut sekaligus mabuk cinta.

***

"Kita belum sampai?" Tanyaku sambil mengucek kedua mata. Satu jam aku tertidur di bahunya. Satu jam pula ia hanya tidur berbantalkan kusen kapal yang keras itu. Hari sudah benar-benar gelap. Namun, hey! Lihatlah! Langit terang benderang dihiasi gemerlap bintang yang mengerling centil. Bulan sabit juga tak mau kalah mengejekku yang masih saja gengsi mengungkap perasaan kepada lelaki di sebelahku.

"Belum. Langitnya indah, ya..." Ia melonggarkan rangkulannya. Kami duduk bersebelahan dalam diam. Padahal ombak sudah mulai tenang, namun kami malah semakin canggung.

Iya, langitnya indah.
Akan lebih indah lagi bila hati kita terpaut di sini.
Di tempat seindah ini.

Batinku, dalam hati. 

"Nda.." Gumamnya pelan, persis di telingaku. Alih-alih menyahut, aku malah melontarkan pandangan ke seluruh penjuru kapal bermuatan tiga puluh orang. "Aku sayang kamu, Nda.."

Seketika pertahananku jebol. Perasaanku roboh. Tatapan matanya membuatku terseret pusaran arus cintanya yang begitu besar. Mulutku menganga menyadari betapa alam pun turut berkonspirasi mengabulkan doa singkatku beberapa menit lalu. Namun aku tidak boleh goyah. Siapa tahu perasaannya hanya sesaat. Sungguh aku tidak mau cinta yang hanya sesaat. Aku percaya, segala sesuatu yang sulit didapat, pasti akan sulit dilepaskan begitu saja.

Dan ia, juga tidak kunjung meminta jawaban atas perasaannya.

"Tidak semua perasaan harus dikatakan saat itu juga, bukan?" Jawabku terbata. Disusul segenap sesal yang memburu dada. Ia pasti kecewa dengan jawabanku. Ia pasti tidak akan dekat denganku lagi. Ia pasti menyesal telah berkata demikian. Ia pasti...

"Aku akan menunggu."

Ya, semoga kamu kuat menungguku.
Menunggu cinta yang tidak hanya sesaat saja.
Tapi cinta yang membuatmu bertahan dan tidak meninggalkanku dengan mudahnya.
Seperti ia, yang telah lalu.

Kamis, 11 September 2014

Dalam Lelapmu

Ini adalah perjalanan kita yang ke sekian. Setelah gunung dan desa terpencil yang kau dan aku lalui, atau sekedar menerobos kemacetan kota sembari hujan-hujanan dan tertawa riang. Ini adalah perjalanan panjang yang tanpa susunan jadwal, tanpa tahu harus naik apa dan menginap dimana. Sederhana saja. Berjalan saja. Yang penting melangkah bersama.

Banyak harapan menyertai perjalanan ini. Barisan doa dirapalkan begitu rapi. Semangat berapi-api. Jatuh bangun dan tersesat bertubi-tubi. Emosi sesaat yang kau tunjukkan di hadapanku karena kesal dengan seorang lelaki yang kerap kali menggodaku. Cemburu dan manja silih berganti. Kamu sungguh lucu sekali.

Hingga tiba saat dimana aku dan kamu mendapat kabar buruk dari keluarga di rumah. Kita harus pulang malam ini, kataku. Kamu tak mengiyakan, hanya bingung harus berbuat apa. Wajahmu menunjukkan raut tak rela bila kita harus mengakhiri perjalanan ini. Walau sedih, aku memesan tiket pulang. Malam itu juga. Dan kamu hanya mengikuti langkahku, menyeret kaki dengan malas. Menuju sebuah kota besar yang akan mengantar aku dan kamu pulang ke kota asal dengan transportasi darat super cepat bernama kereta api.

Kamu kelelahan. Tertidur di pundakku begitu lelap. Padahal aku tahu bahwa dengan posisi seperti itu sungguh tak ada kenyamanan sedikit pun yang kamu rasakan. Kepalamu pasti pegal ketika bangun. Mengingat pundakku lebih rendah dari kepalamu. Tapi matamu tetap terpejam. Semoga mimpi indah, batinku kemudian.

Kamu tertidur begitu lama. Entah memang lelah atau nyaman berada di sisiku. Aku tak tahu. Aku tak mau terlalu percaya diri. Yang aku tahu, aku bahagia bisa bersamamu, seperti ini, sesederhana ini. Terus begini, ya?

:)

Senin, 14 Juli 2014

Terlalu Manis

"Bro.. Mau kemana?" Tanya Brian mengagetkanku.

"Langsung pulang, cewek gue ulang tahun." Jawabku tergesa sambil memasukkan bungkusan kado lengkap dengan pita ke dalam tas.

"Nanti malem ada party, bro! Yakin nggak mau ikut? Banyak cewek-cewek seksi juga!" Brian menggodaku. Ia tahu bahwa aku selalu absen apabila teman-teman di kantor mengadakan 'pesta' di klub. Bukannya sok alim, aku hanya takut terjerumus pergaulan tidak sehat.

"Gue duluan ya, bro!" Ujarku mengakhiri pembicaraan, semata-mata agar ia tak lagi membujukku.

***

Perjalanan Bekasi - Grogol di saat jam pulang kantor adalah neraka. Aku sendiri heran mengapa bisa bertahan dengan seorang wanita pendiam yang domisilinya jauh dari tempat tinggalku karena masih menyewa kost di dekat kampusnya dan berstatus sebagai mahasiswi tingkat akhir. Cantik, begitu aku memanggilnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya ke-23 dan kami telah menjalin hubungan selama tiga tahun.

Cantik adalah sosok wanita yang tidak banyak menuntut. Ia juga tidak mudah marah, namun sifat diamnya kerap kali membuatku gemas sendiri. Ia tidak se-agresif sekretaris bosku yang sering kali memancing perhatian staff dengan memainkan kancing bajunya atau mengenakan rok super-mini. Beberapa kawanku, seperti Brian, juga sering mereka kerjai dengan menceplakkan bibir merah ke kemejanya yang berwarna putih. Kalau Brian sih pasti senang-senang saja. Kalau aku? Aku menganggap mereka semua murahan.

Tapi, semakin sering mereka berbuat seperti itu, aku malah semakin menikmatinya. Namanya juga kucing, kalau dikasih ikan, siapa yang bisa nolak?

Kriiiingg Kriiiingg.

Suara ponselku berdering. Tertera nama Brian di  layarnya. Sudah pasti ia akan membujukku lagi. Aku mengangkat telfon sambil mendengus malas.

"Brooo... yakin nggak mau nyusul? Cewek lo di Grogol, kan? Dari Grogol lo langsung ke Kemang aja. Gile brooo, Katty, sekretaris bos yang paling sopan, dateng pake dress transparan! Gokiiil... Kapan lagi liat Katty buka-bukaan!"

Klik.

Telefon kuputus. Membayangkan sosok Katty yang pendiam dan berani berbusana nekat sukses membuat kemaluanku berdiri. Entah mengapa, aku selalu menyukai sosok wanita pendiam. Kemacetan Bekasi-Grogol seolah tak ada apa-apanya karena bayang-bayang lekuk tubuh Katty yang menari-nari. Mobilku tiba-tiba sampai di depan rumah kost Cantik.

Sesaat setelah mesin mobil kumatikan, sebuah kue tart mini lengkap dengan lilin yang telah ku nyalakan dengan korek api, kini siap ku bawa ke kostnya. Tak lupa kukantongi sebuah kotak kecil yang berisi kado untuknya. Dengan santai, aku membuka pintu mobil dan berjalan menuju terasnya. Kulihat pintu kamar yang terbuka. Tanpa basa-basi, aku menyembulkan kepala ke dalam kamar dan berseru, "Selamat ulang tahun, Cantiiiiiik!"

Prakkk...

Kue tart mini lengkap dengan lilin di tanganku seketika terhempas ke bumi. Tanganku lemas. Lututku gemetar. Kado untuk Cantik yang berisi cincin emas untuk melamarnya, jatuh begitu saja.

Cantik sedang berciuman dengan pria lain,
dengan kue tart besar yang berada di hadapan mereka.


***

"Ayo brooo, tambah lagi minumnya." Ujar Brian. Aku mulai cegukkan. "Semua cewek sama aja, bro. Murahan!" Lanjut Brian. Aku menangis sambil tertawa. Sebentar lagi sakit jiwa.

"Sayang... Kamar yuk..." Katty merayuku, kemudian dengan sukses menyeretku ke pelukannya, dan membenamkan wajah polosku ke belahan dadanya.


Di malam yang dingin dan gelap sepi,
benakku melayang pada kisah kita...

Terlalu manis, untuk dilupakan..
Kenangan yang indah bersamamu,
tinggalah mimpi.

Terlalu manis, untuk dilupakan..
Walau kita memang tak saling cinta,
takkan terjadi..

Senin, 06 Januari 2014

Bantal Terbaik



Pagi tadi, aku mendapat kiriman gambar seperti ini dari seorang teman. Bermacam-macam rasa berkecamuk di dalam isi kepalaku. Dari kangen, sedih, haru, hingga berujung ke galau.

Aku rindu berada dalam dekapanmu. Dimana aku bisa mendengar degup jantungmu secara jelas. Degup jantung yang berdebar keras hingga perlahan melemah. Irama paling merdu yang bisa menenangkan telinga dan hatiku. Dengan hangat sentuhan jemari tanganmu yang perlahan membelai kepalaku, memastikan bahwa tidurku nyenyak dan nyaman. Malam-malam yang dingin menjadi begitu hangat di dalam dekapmu, beralaskan sebuah bantal bernama dada bidangmu.

Sementara, paha besarku ini bukan berarti tanpa alasan aku memiliki dan memeliharanya. Aku selalu bangga dengan aset masa depanku ini. Sebuah paha besar yang kelak menjadi bantal terempuk untuk kepalamu bersandar, serta kepala anak-anak kita nanti.

Ah, khayalanku melayang kemana-mana.

Sudahlah, ku tunggu lamaranmu. Agar setiap peluk dan degup menjadi ibadah dalam ikatan yang sah...

:)

Jumat, 21 Desember 2012

Apa yang Kamu Cari di Bagian Timur Pulau Jawa?


 *tulisan ini telah dipublish diblog Aku dan Mahameru sebagai pra-Jurnal Memorable Trekking Semeru 2013 oleh BackpackerStore :)


Namaku Agita Violy, panggil saja Gita, seorang gadis berusia 18 tahun yang selama setahun terakhir bekerja sebagai tenaga medis di sebuah Laboratorium swasta. Saat ini sedang sibuk menjadi seorang mahasiswi kelas malam dengan mengambil jurusan sastra Inggris. Kebetulan kampus mengumumkan libur akhir tahun 2012 berlangsung selama dua minggu. Satu minggu sebagai libur natal dan tahun baru, sementara seminggu berikutnya diberikan sebagai minggu tenang menjelang UAS. Aku mulai mencari-cari apa yang harus kulakukan ketika liburan, aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri tentang apa saja yang harus kuubah tahun depan. Sampai ketika aku menemukan sebuah pengumuman pendakian ke puncak tertinggi di pulau Jawa yang kegiatannya dilakukan untuk konservasi alam. Aku merasa tertarik mengikutinya.

“Apa yang kamu cari dibagian timur pulau jawa?” Tanya Ayah ketika aku mengutarakan niat untuk mengikuti kegiatan Memorable Trekking #Semeru2013 yang diadakan oleh Backpacker Store.

“Aku mau mencari jati diri, Yah..” Jawabku sekenanya kala itu.

“Kenapa jauh-jauh kesana? Apa selama setahun kamu kost belum bisa menemukan jati diri?” Tanyanya lagi.

“Ini udah kayak panggilan alam, Yah. Izinkan aku.” Jawabku melemah. Beliau mengangguk lalu meninggalkanku.

Semeru, Malang, Jawa Timur. Sebuah tempat yang begitu menggelitik rasa penasaranku. Tepat tujuh tahun aku bertanya-tanya tentang tempat itu. Lama sekali bukan? Bermula dari sebuah perkenalanku dengan seorang gadis dari desa Tumpang, namanya Nifa. Saat itu aku masih duduk dibangku SMP, sebuah perkenalan yang datang melalui surat. Ya, Nifa sahabat penaku dan sampai saat inipun aku belum pernah bertatap muka dengannya.

“Salam kenal, namaku Nifa. Aku lahir dan dibesarkan di desa Tumpang, Malang. Kamu tahu Gunung Semeru, kan? Itu dekat sekali dengan desaku.” Sebuah kalimat perkenalan yang terdengar remeh namun memberi kesan tersendiri untukku. Seperti apa kota Malang? Seperti apa desa Tumpang? Seperti apa Gunung Semeru?

Ditambah lagi, selama setahun terakhir aku tinggal disebuah kost di bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Aku tak punya banyak teman kala itu, hanya ada satu teman yang selalu bersedia membantuku. Sebut saja Mbak Mel. Dan lagi-lagi, ia asli Malang. Pernah beberapa kali ke Bromo dan Pananjakan, namun belum pernah ke Semeru.

Rasa penasaran semakin membuncah ketika aku membaca novel 5cm, sebuah catatan perjalanan beberapa orang sahabat ke sebuah puncak abadi para dewa, Mahameru. Betapa indahnya imajinasiku kala membaca karya Donny Dhirgantoro itu. Dan apa yang mereka lakukan disana? Apa yang mereka cari disana? Mahameru adalah perjalanan hati, perjalanan untuk mencari jati diri.

Kemudian novel yang serupa, Tahta Mahameru karya Azzura Dayana yang baru rilis beberapa bulan lalu. Ia menjelaskan lebih detail tentang keindahan negeri diatas awan itu. Tentang seseorang yang awalnya memiliki sikap acuh namun ketika beberapa kali ke Semeru, akhirnya ia mengubah sikapnya menjadi lebih baik. Terlalu banyak hal yang dimiliki Semeru, sampai-sampai tak dapat dijelaskan satu persatu.

“Sebuah negeri tidak akan pernah kehabisan stok pemimpinnya selama masih ada pemuda yang senang main ke gunung, hutan dan pantai” – 5cm. Kurang lebih maknanya seperti itu, kalau redaksi lengkapnya aku kurang hafal. Aku termasuk orang yang setuju dengan kalimat di atas. Ada yang bilang pemimpin itu dilahirkan dan ada juga yang bilang bahwa pemimpin itu diciptakan. Menurutku tidak penting pemimpin itu dilahirkan ataupun diciptakan, yang jelas jiwa kepemimpinan tidak dapat dimiliki dengan mudah. Sebuah jati diri memang perlu dicari, dengan sebuah perjalanan.

Aku dan Mahameru, tujuh tahun aku menunggu perjalanan ini. Aku menyebutnya sebagai panggilan alam. Persahabatan dengan Nifa, satu kost dengan Mbak Mel, buku-buku yang tak sengaja kubeli dan kubaca, bertemu dengan akun Backpacker Store, ini merupakan suatu pertanda bahwa Mahameru siap menerimaku. Inilah yang ku cari di bagian timur pulau Jawa.

Memorable Trekking #Semeru2013 dengan Backpacker Store ini merupakan pendakianku yang pertama. Aku sudah hapal sekali jalur-jalur menuju puncak abadi para dewa itu, namun hanya dalam imajinasiku ketika membaca buku, pernah juga kujadikan sebagai tugas destinasi wisata ( bisa dibaca disini ) ). Serunya menaiki Jeep dari Pasar Tumpang hingga Ranu Pane, keindahan Ranu Kumbolo, mitos tanjakan cinta, padang rumput Oro-oro Ombo, bermalam di Kalimati, melintasi Arcopodo, trek pasir ketika summit attack, berdiri diatas gumpalan awan putih, menunaikan ibadah shalat shubuh dipuncak abadi para dewa, menyaksikan langsung matahari terbit seraya mengibarkan bendera merah putih di titik tertinggi pulau Jawa dan segala keindahan tentang Mahameru. Inilah saatnya untuk membuktikan langsung, merangkai catatan perjalanan kesana, menikmati saat-saat dimana aku bisa berdiri di puncak tertinggi pulau Jawa, mewujudkan mimpi untuk membuat buku seindah 5cm dan Tahta Mahameru serta hijrah menjadi pribadi yang lebih baik, InsyaAllah…

@agitavio - 10 Desember 2012 – http://agitavioly.blogspot.com

Rabu, 24 Oktober 2012

Pacar Setahun

Tik Tok Tik Tok

Jarum jam terus bergerak mengejekku. Berputar-putar mengitari angka-angka dari satu sampai duabelas. Aku duduk termangu dibangku stasiun. Sambil sesekali berdiri dan melongok-longok kearah pintu masuk. Sudah satu jam, dan ia tak juga datang.

Tik Tok Tik Tok
Kedatangan pertamaku kekotanya. Solo, sebuah kota dengan tata letak yang sempurna. Dengan Pak Walikota yang ramah terhadap sesama, dengan masyarakat yang selalu tersenyum tanpa asa. 

Aku mengenalnya setahun lalu, dikotaku, Bandung. Diakhir tahun ajaran tiba-tiba ia mengajakku berkenalan, saling berteman, sampai akhirnya jadian. Tapi masa-masa indah hanya kami lalui selama sebulan pertama. Setelahnya, ia tak pernah menganggapku. Terlebih lagi setelah lulus ia kembali kekotanya.

"Kamu dimana?" Sekali lagi kukirim pesan singkat ke nomor ponselnya. Ini pesan singkat ke-12 yang berisi dua kata yang sama, dan hasilnya pun sama. Tak ada satupun balasan yang mendarat di ponselku. Hari semakin malam. Malam semakin larut.

Tik Tok Tik Tok
Anak-anak kecil berkejaran, berebut mainan, ada pula yang menjajakan jualan. Tata bahasa yang mereka gunakan halus sekali, dan aku tak mengerti sama sekali.

"Gagah.." desisku pelan melihat seorang pria berjalan melalui pintu masuk, dan kemudian membeli tiket di loket. Namun, siapa wanita disebelahnya? 

Aku segera menyulap sapu tangan menjadi masker. Mengikat keduabelah sisinya di kepala bagian belakang. Tak lupa kukenakan kacamata. Gagah dan wanita disebelahnya berjalan pelan ke koridor tempatku menunggu sejak tadi. Tak lama kereta datang dan  wanita itu naik.  Gagah meraih ponsel dari saku celananya, memencet-mencet tombolnya, dan ponselku berdering. Aku melepas sapu tangan dan kacamataku.

"Kamu dimana?" Tanya Gagah, mesra. Aku berjalan kearahnya, dan berada tepat dibelakangnya.

"Aku dibelakangmu" Jawabku singkat seraya mematikan telefon.

"Hai.." Sapa Gagah hendak memelukku. Aku menghindar.

"Tadi siapa?" tanyaku pelan.

"Mantanku. Dia mau ke Jogja. Tadi minta aku anterin." Jawabnya santai seraya merangkulku. Tanpa sedikitpun merasakan kecemburuan yang menyelimuti batinku. Aku berjalan disampingnya, masih dengan rangkulan yang sama, masih dengan aroma tubuhnya yang sama.

"Aku udah empat jam nungguin kamu." suaraku mulai meninggi.

"Kamu tuh kenapa sih? Dateng-dateng malah marah-marah! Kamu tuh terlalu banyak nuntut! Nggak kayak mantanku yang mau nerima aku apa adanya! Nggak kayak mantanku yang nggak pernah marah-marah atau ngatur-ngatur kebiasaanku!" Suaranya terdengar lebih tinggi. Ia melepas rangkulannya sejak tadi.

"Pacaran aja sana sama mantanmu! Dia nggak pernah nuntut karena kebutuhannya selalu kamu penuhin! Sementara aku? Ribuan kali aku sms tapi kamu bales cuma sekali. Ribuan jam aku nungguin kabarmu, tapi kamu nggak pernah sedikitpun peduli sama keadaanku. Dan sekarang, aku bela-belain dateng kekotamu, tapi kamu tetep ngejadiin mantanmu sebagai prioritas utama! Kita selesaiin aja semuanya disini! Percuma satu tahun aku pacaran sama angin!" Aku mencak-mencak tanpa peduli dengan tatapan orang-orang disekelilingku.

"Bukan gitu Rona, maksud aku biar kamu bisa banyak belajar dari mantanku." Ujarnya melunak seraya menatapku dalam. Tatapan mata yang selalu saja mengalahkan amarahku. Tatapan mata yang meyakinkanku untuk menjawabnya dengan sebuah anggukan. Ia menuntunku menuju mobilnya. Membukakan pintu untukku, kemudian mempersilakanku masuk. Aku terlalu lelah, dan memilih tertidur menatap jalanan.

***

"Sayaaang.. Banguuun.." Aku menggoncang-goncangkan bahunya manja. Ia menggeliat di Sofa ruang tamunya. 

"hmmmm... masih ngantuk" Jawabnya seperti orang kumur-kumur. Kuciumi pipinya sambil mengelitikki perutnya. Ia terjatuh dari sofa. Aku tertawa.

"Jahat.." Ia mencoba bangun dan duduk sambil mengusap-usap matanya.  Aku meninggalkannya menuju dapur. Membuat sarapan untuknya. Makanan kesukaannya, nasi goreng sosis dan omelett. Serta menu sarapan wajibnya, secangkir kopi susu. Sudah lama sekali aku tak membuatkannya sarapa seperti ini. Aku tersenyum mengingat-ingat kegiatan rutinku setiap pagi ketika ia masih tinggal di sebuah rumah Kost di Bandung dulu.

"Bikin apa sih, wangi bangeeeet." Teriaknya dari ruang tamu. Kulongok sebentar, ternyata ia kembali lagi ke sofa empuknya. Kulanjutkan acara memasakku. Namun tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekatiku. Ia memelukku perlahan, dari belakang. Kemudian menciumi pipiku sambil sesekali mengelitiki pinggangku dengan kedua tangannya yang masih saja memelukku.

Aku menyiapkan sarapan pagi dengan sigap. Kami makan berdua di teras rumahnya. Saling bercanda, saling tertawa, sampai saat ponselnya berdering tanda pesan singkat masuk. Ia membacanya dalam diam. Aku menatapnya penasaran.

"Mantanku minta dijemput. Dia udah pulang dari Jogja. Aku tinggal dulu ya sebentar." Ujarnya terburu-buru sambil meletakkan piring nasi gorengnya dan tanpa sedikitpun menyentuh gagang cangkir kopisusunya. Aku bahkan tak diberi kesempatan untuk berkata-kata. Ia mengambil kunci mobilnya dan pergi meninggalkanku. Aku duduk termangu.

***

Ia datang ketika hari hampir petang. Aku menikmati senjaku sendirian sambil menikmati angin sore di alun-alun surakarta.  Aku pulang sambil membawa bungkusan yang berisi makanan yang juga kesukaannya, bebek Haji Slamet yang terkenal itu.

"Darimana kamu?" tanyanya sinis mendapatiku baru tiba ketika adzan maghrib berkumandang. Seharusnya yang bertanya 'darimana kamu' kan aku. Harusnya pertanyaan itu yang kulontarkan padanya! Aku tau kalau ia baru saja tiba dirumahnya. Aku melihat mobilnya ketika baru masuk kedalam pagar tadi. Aku kan jalan-jalan disekitar sini. Tentu saja aku dapat melihatnya.

"Nih, aku belikan kamu makanan." Ujarku riang menyembunyikan kekesalanku.

"Nggak usah, Aku tadi udah makan sama mantanku." Ucapnya seraya mengibaskan tangannya dari bungkusan makanan yang kuberikan. Aku tercekat. Mataku panas. Air mata meleleh membasahi pipiku.

"Kamu ngapain sih, kok malah nangis?" Suaranya tiba-tiba meninggi.

"Aku nggak ngerti sama kamu! Kamu selalu aja mbanding-mbandingin aku sama mantanmu! Dari dulu aku bilang, Pacaran aja sana sama mantanmu! Lihat aku, Mas... Lihat aku. Aku ini pacarmu! Yang kalau kamu bisa jaga perasaan dan hubungannya bisa jadi istrimu! Aku bisa jadi masa depanmu! Sementara kamu terus aja sibuk sama masa lalumu!" Aku menangis sejadinya. Airmataku tumpah ruah.

"Terserah kamu! Aku capek sama kamu!" Ucap Gagah tiba-tiba. Tangisku semakin meledak.

"Makasih, mas.  Aku minta putus! Aku pulang ke Bandung sekarang! Kita selesaiin semuanya disini! Terimakasih selama setahun ini!" Bungkusan makanan bebek Haji Slamet terlepas dari genggamanku. Aku menyiapkan tas ranselku dan segera pergi dari rumahnya. Mencegat tukang ojek untuk mengantarku ke Stasiun.

Di Stasiun, aku masih menangis. Langit tak mau kalah, gerimis tipis dan suara petir bersahut-sahutan dengan adzan Isya'. Sementara diujung sana, Gagah menerobos hujan yang mulai deras untuk mengejarku. Kereta tujuan Bandung tak begitu lama. Aku menaikinya dan duduk disebelah jendela. Hujan semakin deras. Ketika kereta mulai berjalan, aku melihat sosok pria yang berlari dengan pakaiannya yang basah kuyup. Ia berusaha menggapai keretaku, namun kereta melaju semakin cepat, semakin cepat meninggalkan serpihan hatiku yang ia patahkan di kota ini, semakin cepat meninggalkan semua kenangan yang telah kita jalin selama setahun ini. Dan malam ini, tepat malam ini adalah malam satu tahunku dengannya. Dan malam inilah yang menjadi tujuan utamaku datang kekotanya.

***

Kepala Gagah terasa berat. Ia membuka matanya perlahan. Hari sudah semakin siang, dan sampai sesiang ini tak ada satupun ucapan selamat pagi yang mendarat di ponselnya. Tak ada lagi nasi goreng sosis dan omelette serta secangkir kopi susu buatan Rona, pacar setahunnya. 

Gagah merasa pusing, ia meletakkan punggung tangan ke keningnya. Ia demam. Namun tak ada lagi yang mengingatkannya minum obat ketika ia demam atau vertigonya kambuh. Gerimis lagi-lagi datang. Namun kali ini, gerimis kecil itu berasal dari sudut matanya, mengenang Rona, pacar setahunnya.

Jumat, 19 Oktober 2012

Unbelievable - Untuk Shinta

Always said I would know where to find love,
Always thought I'd be ready and strong enough,
But some times I just felt I could give up.
But you came and changed my whole world now,
I'm somewhere I've never been before.
Now I see, what love means.

[Chorus]

It's so unbelievable,
And I don't want to let it go,
Something so beautiful,
Flowing down like a waterfall.
I feel like you've always been,
Forever a part of me.
And it's so unbelievable to finally be in love,
Somewhere I'd never thought I'd be.

In my heart, in my head, it's so clear now,

Hold my hand you've got nothing to fear now,
I was lost and you've rescued me some how-.
I'm alive, I'm in love you complete me,
And I've never been here before.
Now I see, what love means.

[Chorus]


When I think of what I have, and this chance I nearly lost,

I cant help but break down, and cry.
Ohh yeah, break down and cry.

[Chorus]


Now I see, what love means 



Seminggu sudah aku tak mendengar lagu itu. Lagu cinta dari Mrs. July yang dijadikan kuis dalam mata kuliah Listening. Awalnya aku tak begitu suka dengan lagu yang dinyanyikan oleh Craig David itu. Seleraku jarang yang mendayu-dayu. Tapi ini beda, aku tersentuh.

Seminggu lalu, otakku menolak untuk mencerna lirik-lirik dari lagu berjudul Unbelievable barusan. Namun setelah seminggu ini, sepertinya aku mulai merindukan nada-nada dari lagu tersebut. Terlebih lagi saat ini sedang berlangsung mata kuliah komputer. Aku memanfaatkan fasilitas wi-fi. Aku terkena tulah. Aku suka lagu itu dan mulai menerka-nerka artinya. Mengait-ngaitkan dengan kehidupanku, dan menggalau disepanjang mata kuliah.

Ini benar-benar luar biasa, unbelievable..
Aku tak dapat mengertikan rasa ini sepenuhnya. Terlebih lagi malam ini ia duduk di sebelahku dan membuatku tak dapat bernapas seperti biasa. Aku tercekat, rasanya ingin pulang cepat. Namun kesempatan langka seperti ini seharusnya ku nikmati, ku syukuri. Daripada hanya bisa menatap punggungnya dari belakang? Toh lebih baik berdampingan seperti ini bukan?

Aku benar-benar tak mengerti, aku bahkan sudah memiliki kekasih yang berjalan hampir tiga tahun lamanya. Aku juga sudah menjalin ikatan serius dengan kekasihku itu. Namun sejak bertemu dengan Shinta, batinku berkecamuk. Seolah-olah gravitasi bumi dicabut dan aku melayang-layang mengitari atmosfer cintanya. Kadang aku juga seperti sedang berenang melawan arus disebuah air terjun, aku bertahan sekuat tenaga agar tak terbawa arus, namun aku tetap saja jatuh. Terjatuh lebih dalam, jauh kedasar hatinya.

Unbelievable.
Tiga jam mata kuliah terasa amat lambat. Lambat karena aku tak dapat menahan kuasaku untuk tidak menolehkan wajahku dan menatap wajahnya dalam-dalam. Lambat karena aku hanya bisa duduk mematung sambil melihat bayangan dirinya dari sudut mataku. Lambat, karena aku bahkan tersihir dengan gerak lembut tangannya ketika ia mencatat sesuatu di bukunya. Namun ketika tiga jam mata kuliah telah usai, aku merasa ini terlalu cepat, terlalu cepat untuk diakhiri. Dan aku memang harus mengakhiri penantianku ini. 

Aku harus mengakhiri kegiatanku mengamatinya lagi. Aku harus kembali meletakkan hati kepada kekasihku sendiri. Aku harus tau diri, ia bahkan sudah bersuami! Suami yang selalu menunggunya pulang di parkiran kampus. Lalu aku harus bagaimana lagi? 

I cant help but break down, and cry.
Now I see, what love means~





Agita Violy
matakuliah kewarganegaraan
Catatan Terakhir Seorang Cakra
18 Oktober 2012

Selasa, 16 Oktober 2012

Aku dibelakangmu, dan Kau tak perlu tau.

Hampir sebulan kita sekelas. Diajar oleh dosen yang sama, belajar dengan buku yang sama, menaikki tangga-tangga yang sama. Bahkan lebih dari sekali kita berada dalam satu kelompok yang sama. Saling berdiskusi, membuat presentasi, persepsi sendiri-sendiri. Menyenangkan bisa berkenalan denganmu, Shinta!

Kamu selalu duduk didepan, mengamati dosen, sibuk mencatat. Begitu pula aku yang selalu duduk di belakang, mengamatimu dan sibuk mencatat surat cinta untukmu. Namun aku tak pernah membentuk surat cinta ini menjadi sebuah pesawat kertas lalu melayangkannya padamu. Aku mengumpulkannya dan ingin membuat buku, sebuah buku berjudul Surat Cinta untuk Shinta. Romantis bukan?

Aku ingat perkenalan pertama kita, saat itu aku terlambat masuk mata kuliah pertama dan kamu tertawa melihatku yang salah tingkah ketika memperkenalkan diri di depan umum dengan bahasa inggris. Hampir seluruh mahasiswa dan mahasiswi kelas malam sudah saling kenal sementara aku yang terlambat tak mengetahui satupun nama diantara kalian. Tapi kamu berbeda, kamu memperkenalkan dirimu lagi, namun kali ini tertuju untukku. Mudah sekali mengahapal namamu, kamu persis seperti Dewi Shinta dalam kisah wayang Mahabarata.

"Hello, Shinta. My name is Cakra. Nice to meet you." Sapaku terlebih dahulu.

"Hello, Cakra. Nice to meet you too." Jawabmu singkat dengan senyum yang terus melekat.

Dan hari-hari berikutnya, aku selalu duduk dibelakangmu. Berharap kamu menoleh ke arahku, namun kamu tak perlu tau.




Agita Violy
Yang menunggu UTS Speaking
Sambil sibuk melahap beng-beng
16 Oktober 2012

Aku Rani, aku jatuh cinta diam-diam padamu.

♪ I love you but it’s not so easy
To make you here with me
I wanna touch and hold you forever
But you’re still in my dream
♪

Aku hanyalah seorang pelayan baru disebuah minimarket dekat rumahmu. Aku sering memerhatikan kedatanganmu, mengintip kegiatan belanjamu, melayani transaksi pembayaranmu, dan selalu berharap kamu mengalami sedikit kesulitan lalu meminta bantuanku.

♪ And I can’t stand to wait ‘till nite is coming
To my life
But I still have a time to break a silence
♪

Aku senang ketika kamu melakukan transaksi isi pulsa. Aku bahagia ketika mendapatkan nomor teleponmu. Tapi aku terlalu takut menghubungimu. Yang ku katakan padamu hanya ucapan "terimakasih" dan "selamat datang kembali" dengan senyum manis yang melengkung tiada henti.

♪ When you love someone
Just be brave to say; that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…
♪

Hampir setiap hari kamu kesini, ke minimarket tempatku bekerja. Dan hampir setiap hari aku merindukan kedatanganmu, memimpikan senyummu, merasakan indahnya berbincang sesaat denganmu. Terlebih lagi, kamu sering sekali ikut bersenandung ketika soundsystem di minimarketku menyetel lagu-lagu dari playlist mp3-ku. Aku merasa dekat sekali ketika kamu hapal lagu-lagu yang jarang diketahui orang lain. Pernah suatu saat ku beranikan diri untuk bertanya padamu, "Hapal lagu ini mas?" ketika mp3-ku mengumandangkan lagu When You Love Someone dari Endah And Rhesa. Dan kau menjawab, "Iya, hapal. Lagunya saya banget."

♪ I used to hide and watch you from a distance
And i knew you realized
I was looking for a time to get closer

At least to say… “hello” ♪

Sama sepertiku, lagu ini juga mewakili perasaanku padamu. Aku yang setiap saat selalu bersembunyi dan memerhatikanmu. Mengintip dan mengawasimu. Atau cari perhatian dengan berpura-pura merapikan barang dagangan didekat tempatmu berdiri yang bahkan sama sekali tak berantakkan. Kadang kamu akan tersenyum melihatku, tapi seringkali kamu merasa terganggu dan pergi menjauh dari pandanganku. Lagu ini juga mewakili perasaanmu? Perasaanmu kepada siapa? Kepadaku-kah?

♪ And I can’t stand to wait your love is coming
To my life... ♪

Aku tau apapun tentangmu, rumahmu, kegiatan sehari-harimu, pekerjaanmu, daftar belanjaanmu, minuman kesukaanmu. Tapi aku ragu, aku terlalu malu mengenalkan diriku yang berharap banyak denganmu. Biarkan aku mencintaimu dalam kebisuanku.


♪ When you love someone
Just be brave to say; that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…
♪

Sudah tiga hari ini, kamu tak lagi datang.
Sudah tiga hari ini, aku menyenandungkan lagu kesukaanmu sendirian.
Sudah tiga hari ini, aku kehilangan kabar tentangmu.
Sudah tiga hari ini, aku berhenti lama didepan rumahmu, menajamkan telingaku
berharap melihat sosokmu, atau sekedar mendengar suaramu.

♪ And I never thought that I’m so strong
I stuck on you and wait so long
But when love comes it can’t be wrong
Don’t ever give up just try and try to get what you want
Cause love will find the way….
♪

Aku tak akan menyerah sampai kapanpun. Aku akan terus menunggu kedatanganmu. Aku berjanji akan mengenalkan diri ketika kamu muncul. Aku akan mengaku banyak hal padamu; "Aku Rani, aku sudah lama mengenalmu, hampir setiap hari aku memerhatikanmu, dan aku jatuh cinta padamu"

♪ When you love someone
Just be brave to say; that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…
♪

Sudah seminggu kamu tak kunjung hadir, ku beranikan diri berkunjung kerumahmu. Berbekal buah tangan  yang ku beli dari minimarket. Tapi yang mempersilakan aku masuk bukanlah kamu, bukan juga ibumu, atau adik-adikmu.

♪ When you love someone
Just be brave to say; that you want him to be with you
When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…
♪

"Rumah ini sudah terjual dari seminggu yang lalu, Rama dan keluarganya pindah ke Sukabumi." Ujar pemilik rumahmu yang baru.

♪ When you love someone
Just be brave to say; that you want him to be with you...



Baru saja aku meninggalkan sikapku yang bernama pengecut itu.
Baru saja aku memberanikan diri untuk berhadapan langsung denganmu.
Mengapa tak kau beri sedikit saja kesempatan untukku?
Kamu meninggalkanku, dan aku kehilanganmu.
Dan sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu dalam kebisuanku.
Namun kamu tetaplah kamu, sang Rama yang tak pernah menganggap kehadiranku.

When you hold your love
Don’t ever let it go
Or you will loose your chance
To make your dreams come true…
♪