Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Suatu Sore di Stasiun UI Depok

Tiada dentang lonceng berseru,
Bisu dan debu mengisi bangku-bangku
Stasiun,
Kita kita tidak lagi bercakap
Tidak ada lagi penjual yang berteriak
Yang nyaring hanya jeritan besi baja
Memecah kesangsian
Kemudian wajah-wajah layu dan kuyu
Memenuhi pintu dan jendela kereta
Mereka tampak tidak peduli
Bahwa kita pernah menantinya
(Zeffry J. Alkatiri)

Senin, 11 November 2013

¾ Bulan Purnama

 
 
 
 
Di hadapan cahaya lilin yang menari

Kantuk menghampiri

Mata kecil memaksa diri

Tuk habiskan malam ini

Kapan lagi?



Dan di bawah ¾ bulan purnama

Gelas-gelas kami menganga

Menanti tetesan kopi berikutnya

Tertawa

Lupa
 
 
Merbabu, 12 Oktober 2013
Agita Violy 

Selasa, 29 Oktober 2013

Ketakutan



Kami terus berjalan tanpa henti
Menembus kegelapan yang merasuki
Angin hutan tak lelah berbisik
Begitu pun suara jangkrik
Membangunkan bulu-bulu yang bergidik

Kunang-kunang menari-nari
Berkelap-kelip menerangi
Apakah benar hewan kecil nan indah ini
Terbuat dari kuku orang mati?

Mari segera pulang
Hutan tak lagi milik orang


Agita Violy
Jalur Cibodas, 6 Oktober 2013

Pulang



Dan...
Satu pergi
Satu-satu menjauh
Satu per satu menghilang
Satu lupa
Satu-satu terputus
Satu per satu berakhir
Satu di antara sekian,
Hanya satu bintang yang paling terang.
Jika ku ingat kematian,
Satu per satu pasti pulang.
Agita Violy
Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi
23.00 WIB - 18 Agustus 2013

Lemah



Ku sandarkan kepalaku
Lemah
Di bahu jendela
Dengan kening yang menguap
Panas

Di sudut kursi
Merintih sendiri
Ku coba pejamkan mata
Sesak yang kurasa

Sampai semuanya gelap
Dan aku benar-benar terlelap



Agita Violy
Kereta Brantas, Kediri - Semarang
21 Agustus 2013

Di Sudut Stasiun






Maaf aku berdusta
Meninggalkan kotamu saja aku tak kuasa

Aku...
Ah sudahlah
Semoga kau datang menjemputku
Seorang gadis kecil dengan tas besar di punggung
Duduk termenung
Bingung

Agita Violy
Surabaya, 20 Agustus 2013

Senin, 28 Oktober 2013

Mandalawangi - Pangrango




Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita mengerti,
Tanpa kita bisa menawar
Terimalah dan hadapilah

Dan antara ransel ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas batas hutanmu, melampaui batas batas jurangmu

Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta, 19-7-1966
Soe Hok Gie

Setengah Bermimpi



Hujan terus merintik diluar tenda
Mengembun
Menembus pori-porinya
Basah 
Aku terus meringkuk didalam kantung tidur
Bermimpi
Menembus batas-batas keraguan antara kita
Semu

Agita Violy, 10 Mei 2013

Monolog

Tik Tok Tik Tok..

Tak ada tanda-tanda kehidupan
Aku benar-benar sendirian

Tik Tok Tik Tok..

Jauh didepan sana masih hutan
Dibelakangku kabut berkejaran

Tik Tok Tik Tok..

Semakin dingin
Semakin lapar

Tik Tok Tik Tok..
Hujan terus merintik
Bersaingan dengan melajunya detik
Tik Tok Tik Tok..
"Bolehkah aku beristirahat disini sebentar?"
Tanyaku, pada sebuah batu besar
Ia tersenyum sabar

Agita Violy, 9 Mei 2013

Perang Batin

 
 
 
Langit kala itu,
Biru,
Bercampur kelabu..
Mentari enggan menyinari kalbu,
Seperti aku yang enggan menyatakan rindu..
Terpaku,
malu..
Terhanyut,
dalam resah..
Terombang-ambing,
dalam gundah..
Terbakar gulana dalam dinginnya pagi,
Membangunkan asap-asap emosi,
Mengusir benih-benih kasih..
Pergi!!!
Tertatih aku,
dalam nafas memburu,
tak peduli siapa kamu.. 
 
 
Cibodas, 9 Mei 2013
Agita Violy

Edelweisku Seorang Diri







Dan disinilah kakiku berpijak,
Tegal Alun,
Padang edelweis yang meninggalkan ribuan jejak..

Disinilah kakiku berpijak,
Hamparan rumput dan dedaunan hijau,
Laksana permadani menjuntai di langit,
Bunga-bunga abadi,
Malu-malu bermekaran,
Ranum..
Harum...

Disinilah kakiku berpijak,
Diantara jutaan edelweis,
Dibumi pertiwi yang gerimis,
Ditanah lembab yang beraroma manis,
Udara gunung yang dingin nan romantis,
Mistis...

Disinilah kakiku berpijak,
Seorang diri,
Tanpamu,
Lagi...
 Puncak Tegal Alun
Papandayan - Garut
29 Maret 2013

Secangkir Kopi Pahit

 
 
 
Dan secangkir kopi pahit dihadapanku,
Menggodaku,
Jari jemariku yang tak segan memeluk cangkir panas dan beruap
Menghangatkan hidung dengan menghirup aromanya
Membangkitkan liur ketika diseruput
Membasahi bibir yang mulai kering
Membasuh kerongkongan yang tercekat
Tak henti-hentinya membuat lidah mengecap

Secangkir kopi pahit dihadapanku,
Mengajarkanku,
Dengan merasakan pahit, aku baru bisa merasakan manis.
Dengan menghadapi kenyataan yang pahit,
Aku akan sadar begitu banyak kemanisan yang telah kudapat,
Maka bersyukurlah...

Secangkir kopi pahit dihadapanku,
Kini tinggal ampas,
Berpahit-pahitlah, berlelah-lelahlah,
Manisnya hidup akan terasa setelah kau lelah berjuang...
Februari 2013, dari Kaki Gunung Salak
Agita Violy

Mahameru, Mengharu Biru

 
 
Dan aku akhirnya sampai,
Di titik tertinggi pulau Jawa,
3.676 meter diatas permukaan laut,
Mahameru yang  berkabut,
Air mata berjatuhan lembut,
Mentari pertama ditahun yang baru turut menyambut,
Samudera awan itu benar-benar ada,
Diatas lampu-lampu kota,
Pantai, laut yang menghampar dibagian sana,
Menghadap Bromo, Arjuno, Welirang, Argopuro,
Bukit demi bukit yang telah terlalui,
Jatuh bangun yang telah terlewati,
Egoisme yang tak terbendungi,
Semua bergantian hadir dihadapanku,
Terimakasih semesta…
Mahameru, 1 Januari 2013
Agita Violy

Demi Tanjakan Cinta

 
 
 
 
Bagaimana kabarmu disana?
Aku melintasi tanjakan cinta ini, sendirian
Tanpa genggaman, tanpa pegangan
Berbekal kepercayaan dan sebuah tongkat pinjaman
Mungkinkah suatu saat nanti, di kehidupan nyata
Aku menjalani kisah cinta kita sendirian?
Tanpa genggamanmu, tanpa kepercayaanmu?
 
Entahlah,
 
Demi kabut yang menggelap di Ranu Kumbolo,
Demi tanjakan cinta yang licin dan penuh derita,
Demi pinus yang meneduhkan mata,
Demi nafas yang mulai terengah-engah,
Demi badan dan kaki yang mulai payah,
Aku merindukanmu...
Agita Violy,
Di Penghujung 2012,
Tanjakan Cinta.

Sebening Ranu Kumbolo

 
 
 
Mentari mulai memancarkan sinarnya,
Membelah kabut yang menghantui diri semalaman,
Mencairkan kristal-kristal es yang mengembun di dedaunan,
Gemercik banyu bening mengalun di telinga,
Merayu siapapun untuk mendekat kepadanya,
Menyentuh dinginnya,
Membasuh segarnya,
Memeluk lembutnya,
Membaui aroma tanah basah,
Mendamaikan hati-hati yang resah….
Ranu Kumbolo, 31 Desember 2012
Agita Violy