Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Desember 2012

Desember (End)

Cerita sebelumnya sila klik disini :)


Geisha menutup diarynya. Sebuah penyesalan menyelinap tiba-tiba. Ia masih menyayangi Ari, bahkan hingga saat ini. Entah apa yang salah dalam otaknya, ia masih menyayangi Ari, si anak mami.

Gerimis tiba-tiba turun, Geisha berdiri dan melangkah gontai menuju jendela. Duduk di jendela kamarnya sambil menatap hujan adalah suatu kebiasaan yang paling ia suka. Terlebih lagi ketika muncul pelangi ketika hujan reda. Rasanya seperti menanti seorang kekasih. Membayangkannya, Geisha tersenyum sendiri.

Hujan dan pelangi, mengingat hal itu Geisha tiba-tiba menangis. Terlintas lagi kenangan tahun baru bersama Vian dan teman-teman kompleksnya. Geisha terisak. Ia mulai mencari-cari catatan Desember di tahun berikutnya.



Desember 2010,


Tepat setahun Geisha tak memiliki kekasih. Single but not available. Dan tahun baru kali ini tak banyak cerita yang ia lukiskan di diarynya. Ia hanya menginap dirumah teman sekelasnya yang perayaan ulangtahunnya bertepatan dengan malam tahun baru 2011.

Mengelilingi Kota Bekasi yang macet sambil meniupkan terompet, menembakkan petasan ke langit yang bertabur bintang, makan nasi kuning dan kue, tidur berdesak-desakkan dengan teman-teman sekelasnya, itu saja.

Satu hal yang kurang untuk Geisha, tak ada hujan dan tak ada satupun ucapan Selamat Tahun Baru dari orang yang diharapkannya.

Desember 2010, adalah tahun baru terakhir Geisha di masa putih abu-abunya.

***

Geisha menutup matanya. Ia tak menemukan apa-apa lagi setelah tulisan di akhir Desember. Desember 2010 merupakan catatan terakhirnya. Semenjak saat itu ia benar-benar berhenti menulis.

Menulis apapun. 
Entah di diary, notes facebook, memo ponsel maupun kolom harian di mading sekolahnya. Ia berhenti melakukan apapun yang membuatnya sedih dan mengingat kembali masa lalunya. Namun kini ia menyesal dan mulai mengingat-ingat apa yang ia lakukan di Desember berikutnya. Ia terlalu mencintai bulan itu, entah mantra apa yang dilantunkan oleh Band Efek Rumah Kaca hingga Geisha benar-benar tersihir dengan lagu Desember milik mereka.

Diluar jendela, gerimis masih turun perlahan. Geisha meraih ponselnya dan mulai memainkan mp3. Nowplaying : Efek Rumah Kaca - Desember..



Desember 2011,


Sudah enam bulan Geisha tinggal di Kuningan, Jakarta. Sebuah daerah dengan gaya hidup yang berbeda jauh dengan gaya hidupnya. Setelah lulus sekolah, ia merantau ke Jakarta untuk memenuhi panggilan pekerjaan. Memliki kehidupan pas-pasan yang masih ia sempatkan untuk menabung demi kuliahnya ditahun depan. Miris.

Walau begitu, bukan berarti Geisha tak pernah menikmati liburan. Memiliki uang lebihan tigaratusribu saja ia langsung berangkat ke Jogja, atau sekedar main-main ke Solo. Beberapa kali ia ke Puncak pas, Bogor, hanya untuk sekedar minum kopi dan numpang shalat di masjid terbesar disana.

Satu yang membuat Geisha sedih di Desember tahun 2011 adalah, ia baru saja merayakan umurnya yang ke-17tahun sendirian. Tanpa teman, tanpa keluarga bahkan tanpa kekasih. Dan tepat dua tahun ia masih menggenggam prinsip single but not available.

Sedih, tentu saja. Bahkan kedua orangtuanya mungkin lupa atau terlalu sibuk sampai-sampai tak ada satupun ucapan selamat ulang tahun yang mendarat diponselnya. Entah melalui pesan singkat atau telefon. Geisha benar-benar sendirian.

Dan sampai di penghujung tahun 2011, Geisha yang kebetulan sedang dinas malam dikantornya, menyempatkan diri menuju lantai paling atas digedung tersebut. Berbaur dengan bintang-bintang, menjalin pertemanan dengan angin malam. Tak lama, beberapa kembang api mengelilinginya. Ia berdiri diantara kepulan kembang api yang ditembakkan dari bawah kantornya. Malam yang indah, namun tak ada artinya sudah. 


***


Desember 2012,


Desember 2012,
Geisha belum bisa cerita,
Karena Desember Geisha belum usai. 

Desember 2012, 
banyak yang bilang akan terjadi kiamat pada tgl 12-12-12
bukannya Geisha sombong, tapi Geisha nulis ini ditanggal 12-12-12, kan?

Desember 2012,
Geisha masih suka hujan, pelangi, lagunya ERK
Geisha masih cengeng kalau denger lagu itu ketika hujan
Tapi Geisha pasti langsung senyum kalau lihat pelangi

Desember 2012 Geisha..
Masih rahasia..
Tunggu ceritanya di Januari 2013 ya, diaryku :)



Geisha menutup diary sambil menggigiti ujung spidol merahnya. Ia tersenyum melihat catatan terakhinya sudah memiliki teman. Diary usang miliknya, kini mulai terisi lagi.


 
Note : Kisah ini bukan pengalaman pribadi. Ini kisahnya Geisha, bukan Gita. 
          *Geisha adalah sosok khayalan milik Gita. Kalau sosok khayalanmu namanya siapa? :p

Selasa, 04 Desember 2012

Desember (Part 2)




Cerita sebelumnya sila klik disini :)



Hujan sudah berhenti sejak tadi. Namun Vian tak melepaskan jaketnya dari kepala Geisha. Ia tetap melindungi Geisha yang terduduk disebelahnya.

"Kamu kesini sendirian?" Tanya Geisha.

"Bareng temen-temen. Tapi kepisah semua." Jawab Vian.

"Kamu udah punya...?"

"Sssssssttt.." Vian menempelkan telunjuknya tepat di bibir Geisha, kemudian mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Geisha. Geisha diam terpaku. Matanya ikut terhanyut menatap sosok dihadapannya. Vian menciumnya bibirnya, lembut.

Darr.. Darr. Darr...

Suara kembang api mengagetkan mereka berdua. Sontak mereka menoleh ke sumber suara. Vian melepaskan jaket yang sedari tadi memayungi kepala mereka berdua. Geisha tak bisa memadamkan gemuruh di dadanya yang tak kalah berisik dengan kembang api di angkasa. Ia tak akan pernah bisa melupakan ciuman pertamanya oleh orang yang baru saja ia kenal. Tak akan pernah bisa.

"Vian ngapain disini?" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.

"Tadi aku nyari kamu, eh ternyata salah narik tangan orang. Hehe. Kenalin, ini Geisha." Jelas Vian kepada wanita itu memberi aba-aba agar berkenalan dengan wanita disebelahnya - yang baru saja diciumnya.

"Gue Vira." Wanita itu mengulurkan tangan.

"Geisha." Ia tersenyum seraya menyambut uluran tangan Vira.

"Sayang, temen-temen udah nungguin kita nih di depan gerbang. Mau langsung pulang katanya." Lanjut Vira kepada Vian. Geisha tercengang mendengar kata 'Sayang' keluar dari mulut Vira.

"Oke, gue balik dulu ya, Geisha." Vian mengerlingkan matanya kearah Geisha, kemudian menggamit lengan wanita bernama Vira yang ternyata kekasihnya. Mulut Geisha menganga. Membayangkan ciuman pertamanya oleh seseorang yang ternyata telah memiliki kekasih. Dan tiba-tiba, semua terasa memuakkan.

"Semua pria memang brengsek!" Batin Geisha seraya memungut lagi diary lusuhnya yang sempat ia lempar. Membuka beberapa halamannya dan mulai mengingat-ingat Desember 2008-nya yang begitu menyedihkan. Persis seperti lagu Efek Rumah Kaca yang baru saja dikenalnya kala bersama Vian. 

Semoga ada, yang menerangi sisi gelap ini..
Menanti, seperti pelangi setia menunggu hujan reda..



Desember 2009,


Ujian Akhir Semester I telah usai. Saatnya liburan panjang disambut dengan sukacita. Begitu pula dengan Geisha yang baru beberapa bulan akhirnya kembali lagi menjalin ikatan dengan mantannya, Ari. Mereka berdua kembali menjadi sepasang kekasih ketika berada di tahun ajaran kedua. Namun suasana hubungan mereka tak sehangat dahulu. Semua terasa dingin dan hambar.

Bisa kau bayangkan sendiri, kan?
Ketika seorang wanita mengharapkan kabar dari si pria, namun si pria tak kunjung memberi kabar.
Bahkan, hilang seharian dengan keadaan ponsel yang dimatikan.
Apalagi yang dilakukan seorang wanita selain menumpahkan kekesalannya di diary?
Masih untung di diary, daripada ia umbar segala hal yang menyebalkan tentang kekasihnya di status facebook atau twitter. Padahal beberapa wanita berbuat seperti itu bukan karena mereka cari masalah, bukan pula membuat sebuah hubungan menjadi saling bertengkar. Mereka hanya ingin diperhatikan. Itu saja.

Ari tak kunjung mengajak Geisha untuk mengisi liburan sekolah atau merayakan tahun baru bersama. Tentu saja Geisha tak betah. Ia segera mencari kesibukan untuk mengisi masa-masa liburannya. Tanpa meminta izin kepada Ari, Geisha memutuskan ikut bersama rombongan di komplek rumahnya untuk berlibur di sebuah wisma milik Ketua RW di kawasan Puncak, Cianjur. Tema kegiatan dari acara ini adalah Tafakur Alam.

Tafakur Alam.
Kegiatan untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada alam yang diisi dengan susana kamp bersama, outbond, qiyamul lail, pencerahan rohani, malam keakraban dan sebagainya. Selama tiga hari dua malam Geisha mengikuti Tafakur Alam dengan orang-orang yang tinggal di dekat rumahnya, namun baru ia kenal. Selama ini Geisha memang selalu mengurung diri dirumah. Bukan karena ia takut hitam, bukan. Namun ia memang tak mudah akrab dan cenderung menutup diri, apalagi hanya sekedar berbasa-basi. Ia pasti menghindar.

Dan sepulangnya dari kegiatan tersebut, Geisha semakin malas dengan kekasihnya. Ingin rasanya ia menghentikan semuanya. Tepat tanggal 31 Desember 2009, Geisha berkunjung kerumah Ari.

"Kamu dimana?" Tanya Geisha kepada Ari melalui telefon.

"Dirumah. Kenapa?" Suara Ari terdengar ketus.

"Aku didepan rumahmu." Jawab Geisha seraya memutuskan telefon. Tak lama pintu terbuka dan sosok Ari keluar dari balik pintu. Ia tersenyum pada Geisha kemudian membuka pagar. Geisha merasa aneh dengan senyuman Ari barusan.

"Kamu kemana ajaaaa? Aku kangen sama kamuuu." Ari memeluk Geisha, erat. Geisha tak membalas pelukan Ari sama sekali.

Geisha akhirnya berbasa-basi. Dengan Ari, mama-papanya, saudara-saudaranya, kakak-kakaknya yang lengkap dengan pacarnya masing-masing. Mereka berencana merayakan tahun baru bersama di rumah Ari. Sebuah keluarga bahagia, bukan? Namun Geisha terlalu muak untuk bergabung dengan mereka. Geisha sudah tak tahan lagi dengan kelakuan Ari sebagai anak paling bungsu di keluarganya. Terlebih lagi, Mama Ari yang terlalu berlebih-lebihan melindungi Ari agar tak salah memilihkan kekasih untuk anak bungsunya itu. Harus pandai berdandan, kemayu dan perempuan tulen. Maksudnya???!!!

"Geisha tahun baruan disini, kan, Sayang?" Tanya Mama Ari menghentikan Geisha yang sibuk mengumpat didalam hati.

"Enggak, Ma. Gakboleh nginep sama Bunda." Jawab Geisha beralasan.

"Nanti Mama telefon ke Bunda biar diizinin." Mama Geisha mulai menggoyahkan pendirian Geisha. Ia 'kan kesini untuk mengakhiri semuanya, bukan malah menyambut tahun baru dan mengakrabkan diri dengan mereka!

"Enggak, Ma. Geisha juga lagi nggak enak badan, nih. Maaf ya, Ma" Geisha menolak secara halus. Ari terlihat sedih. Sebuah wajah sedih yang menurut Geisha terlalu dibuat-buat.

Selepas Maghrib, Geisha izin pamit kepada keluarga besar nan bahagia itu. Ari memaksa keras untuk mengantarnya pulang. Geisha menolak.

"Kenapa sih?" Bentak Ari.

"Aku bisa pulang sendiri." 

"Ya aku anter!"

"Aku nggak pulang kerumah! Aku mau tahun baruan sama temen-temen komplek!"

"Jadi kamu lebih pilih tahun baruan sama temen-temen komplek daripada sama keluargaku?"

"Iya!"

"Kita putus!"

"Oke."

Geisha berlalu. Ari terpaku.




(Bersambung ke Part Terakhir bisa klik disini)