Cerita sebelumnya sila klik disini :)
Aku tergagap meraih microphone. Keringat dingin mulai membasahi paras wajahku. Rasanya ingin sekali aku menangis. Mengapa kak Satria sejahat ini kepadaku? Apa maksudnya semua ini? Mengapa cintaku dibalas oleh sebuah penghianatan? Apa benar jatuh cinta sesakit ini? Kalau saja awal mulanya sudah sesakit ini, aku tak mau melanjutkannya. Aku tak mau menyakiti diriku sendiri. Tanpa sadar, kakiku bergetar hebat. Kuambil nafas dalam-dalam dan memberanikan diri untuk bicara.
"Dear Kak Satria.." Suaraku terdengar gugup. Seluruh pasang mata yang berada didalam aula tak bergeming menatapku. Tak ada satupun yang menyorakiku, semuanya diam mendengarkan. Hening.
"Tahukah kamu?
Selama tiga hari ini, dadaku bergetar hebat tiap kali bertemu denganmu.
Apa benar ini cinta pada pandangan pertama?"
Suaraku menggelegar. Aku menghela nafas panjang, mencoba menenangkan saraf-saraf otakku.
"Kala itu, kau dan vespamu menabrakku.
Entah disengaja atau tidak, kau pun berhasil menabrak dan membuka pintu hatiku.
Aku merasa benih-benih cinta telah bermekaran lengkap dengan kupu-kupu."
"Ciiieeeeeeeeeeeeeeeeeeee..........." Suara koor panjang membahana sampai kesudut-sudut ruangan. Aku percaya bahwa ini surat buatan kak Satria sendiri. Anak Tehnik coba-coba bikin puisi, yah seperti inilah jadinya.
"Bukannya tak mau tuk ungkapkan rasa,
Dan bukan tak ingin berterus terang
Kucoba ingkari ini, karena ku hanya wanita
Penuh dengan rasa bimbang tuk ungkapkan cinta.."
DEG!
Aku dejavu! Aku kenal dengan bait-bait yang baru saja kusebutkan tadi!
Tiba-tiba terdengar suara dentingan gitar mengaluni puisiku, dan nada-nada ini. Aku mengenalnya. Aku menoleh ke sumber suara. Kak Satria terlihat tenang saat menatapku. Senyumnya meyakinkanku bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Aku mengerti sekarang, kak Satria ingin ber-musikalisasi puisi denganku.
Bait-bait puisi tadi, adalah sebuah lirik lagu milik DF5. Aku beranikan diri untuk bersenandung.
"Kadang ku berpikir, tuk lupakan kamu
Tuk coba membenci, dan ingin kau pergi
Tapi berat hati ini, kau tetap selalu ada
Sedangkan ku masih tak ingin ungkapkan.."
"Dan kini penyesalan ada dalam hatiku,
Mungkin kan jadi selamanya.."
"Mengertilah kamu, suatu saat nanti
Ku katakan kucinta kamu,
Kuingin kamu,
Kubutuh kamu.."
"Taukah kamu,
Sampai saat inipun
Rasa ini hanya kusimpan saja.."
Kak Satria mengakhiri dentingan gitarnya. Suara tepuk tangan mulai bersahutan dengan beberapa siulan. Aku tersenyum lega. Jadi ini maksud kak Satria untuk mengakhiri malam puncak. Eh tapi, mengapa air muka kakak tingkat perempuan tidak berubah? Mereka masih terlihat sinis saat menatapku. Aku menundukkan pandangan, mengambil langkah untuk kembali ke tempat dudukku disudut ruangan sana.
Tiba-tiba, sebuah tangan menarikku.
Aku menoleh.
Kak Satria menatapku, tajam.
"Aku sayang kamu, Jeng." Suaranya menggelegar, padahal ia tak menggunakan microphone sama sekali.
"Kamu mau jadi kekasih hatiku?" Sebuah kalimat mengalir begitu saja dari mulutnya. Pipiku terasa panas. Menahan malu karena ditembak didepan ratusan orang sekaligus. Aku bingung harus senang atau kesal. Seorang wanita berjalan kearah kami berdiri.
"Kenalin, gue Mega. Baru putus dua minggu yang lalu sama Satria."
Mulutku menganga. Jadi ini wanita yang dimaksud oleh tukang koran tadi pagi. Bagaiman bisa? Aku baru ditembak saja sudah dilabrak. Aku ingin menangis dan segera melarikan diri dari sini! Kak Satria norak!
"Tapi gue ikhlas kok, kalo lo jadian sama dia." Lanjutnya sambil tersenyum. Aku menghela nafas lega. Kemudian ia meninggalkan kami berdua dan berangkulan mesra dengan kekasihnya. Jelas saja dia ikhlas, wong sudah punya pacar lagi.
"Gimana, Jeng?" Tanya kak Satria lagi. Aku memalingkan muka. Menatap kakak-kakak perempuan yang tadi melihatku sinis. Berharap mereka memberi bantuan untukku. Dan kudapati wajah mereka yang berangsur-angsur tersenyum menyemangatiku. Sayup-sayup terdengar suara dan tepuk tangan. Semakin lama semakin kencang.
"Terima! Terima! Terima!" Beberapa orang dosen keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka ikut berteriak dan bertepuk tangan.
Dan tanpa sadar, aku mengangguk.
Kak Satria terlonjak senang lalu memelukku erat. Beberapa orang ikut berpelukkan.
Ah, Vespa Biru, sedang apa kau diparkiran sana?
Terimakasih ya telah menabrakku kala itu, sekarang aku jadian sama majikanmu!
Nanti kita pulang bareng ya, Vespa Biru :)
(Selesai)
ceritanya bagus, endingnya juga keren..
BalasHapusjadi pengen kayak gitu..
hehehe.. :D
terimakasih :)
BalasHapusterus bikin cerita yg seru lagi ya te..
BalasHapusWoke :D
BalasHapusadaw...kini vespa biru itu menabrakku...
BalasHapus; )